Showing posts with label Akhlak. Show all posts
Showing posts with label Akhlak. Show all posts

Friday, January 9, 2015

Allah benci orang GEMUK

Sumber: http://umar-arrahimy.blogspot.com/

بسم الله الرحمن الرحيم



Diriwayatkan oleh Imam Ath-Thabary (310H) rahimahullah dalam kitab tafsirnya pada surah Al-An'aam ayat 91 no.(13571) 4/3257:


قال : حدثنا ابن حميدقال : ثنا يعقوب القمي عن جعفر بن أبي المغيرة عن سيعد بن جبير قال : جاء رجل من اليهود يقال له مالك بن الصيف يخاصم النبي صلى الله عليه وسلم ، فقال له النبي صلى الله عليه وسلم : " أَنْشُدُكَ بِالَّذِي أَنْزَلَ التَّوْرَاةَ عَلَى مُوسَى ، أَمَا تَجِدُ فِي التَّوْرَاةِ أَنَّ اللَّهَ يُبْغِضُ الْحَبْرَ السَّمِينَ ؟ " وَكَانَ حَبْرًا سَمِينًا ، فَغَضِبَ
Sa'id bin Jubair rahimahullah berkata: Seorang Yahudi yang bernama Malik bin As-Shaif datang menantang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya kepadanya: "Aku memintamu demi Allah yang menurunkan Taurat kepada Musa, tidakkah engkau mendapati dalam Taurat bahwa sesungguhnya Allah membenci pendeta yang gemuk?" Orang Yahudi tersebut adalah seorang pendeta yang gemuk, maka ia marah.

Sanad hadits ini lemah, karena Ibnu Humaid (248H) nama lengkapnya Muhammad bin Humaid At Tamimy periwayatan haditsnya lemah. Selain itu Sa'id bin Jubair (95H) adalah seorang tabi'iy tidak pernah bertemu dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, maka dengan demikian sanadnya mursal (terputus).

Hadits ini juga diriwayatkan dari perkataan Ka'ab Al-Ahbaar radhiyallahu 'anhu. Diriwayatkan oleh Ibnu Ma'in (233H) rahimahullah dalam kitabnya "At-Taariikh" no.(4069) 4/222:


قَالَ عَبْدُ الصَّمَدِ، عَنْ شُعْبَةَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي النَّوَّارِ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ ذَكْوَانَ، عَنْ رَجُلٍ، عَنْ كَعْبٍ قَالَ: " إِنَّ اللهَ يُبْغِضُ أَهْلَ الْبَيْتِ اللَّحْمِيِّينَ وَالْحَبْرَ السَّمِينَ "
Ka'ab berkata: Sesungguhnya Allah membenci keluarga yang suka makan daging, dan pendeta yang gemuk.

Tapi sanadnya juga lemah karena ada rawy yang tidak disebutkan namanya (mubham), dan Muhammad bin Abi An-Nawwar; Abu Hatim (277H) mengatakan: Aku tidak mengenalnya.

Diriwayatkan juga oleh Ath-Thabary dalam kitabnya "Tahdzib Al-Atsaar" no.(515) 1/303


قال : حدثني يونس قال : أخبرنا ابن وهب قال : أخبرني عبد الله بن عياش عن يزيد بن قَوْذَر عن كعب قال : «مَنْ تَضَعْضَعَ
لِصَاحِبِ الدُّنْيَا وَالْمَالِ تَضَعْضَعَ دِينُهُ، وَالْتَمَسَ الْفَضْلَ عِنْدَ غَيْرِ الْمُفْضِلِ، وَلَمْ يُصِبْ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللهُ لَهُ، وَإِنَّ اللهَ ليُبْغِضُ كُلَّ جَمَّاعٍ لِلْمَالِ، مَنَّاعٍ لِلْخَيْرِ، مُسْتَكْبِرٍ، وَيُبْغِضُ كُلَّ حَبْرٍ سَمِينٍ»

Ka'ab berkata: Barangsiapa yang merendah kepada orang yang memiliki kenikmatan dunia dan harta maka agamanya juga akan merendah, dan mencari kemuliaan pada orang yang tidak mulia, dan ia tidak akan mendapatkan sesuatu dari dunia ini kecuali apa yang sudah ditakdirkan Allah untuknya, dan sesungguhnya Allah membenci semua orang yang rakus mengumpulkan harta, tidak mau melakukan kebaikan, sombong, dan membenci semua pendeta yang gemuk.

Dalam sanadnya ada rawy yang bernama Yazid bin Qaudzar Al-Masry; Ibnu Hibban mengagapnya tsiqah (haditsnya sahih), sedangkan Imam Bukhari (256H) dalam kitabnya At-Tarikh Al-Kabiir, Ibnu Abi Hatim (327H) dalam kitabnya Al-Jarh Wa At-Ta'diilhanya menyebutnya tanpa menghukumi ia lemah atau tidak.

Dalam sahih Bukhari dan Muslim (261H), dari 'Imran bin Hushain radhiyallahu 'anhu; Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bersabda:


«خَيْرُكُمْ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ، إِنَّ بَعْدَكُمْ قَوْمًا يَخُونُونَ وَلاَ يُؤْتَمَنُونَ، وَيَشْهَدُونَ وَلاَ يُسْتَشْهَدُونَ، وَيَنْذِرُونَ وَلاَ يَفُونَ، وَيَظْهَرُ فِيهِمُ السِّمَنُ»
"Yang paling baik dari kalian adalah orang yang hidup di masaku, kemudian masa setelahnya, kemudian seetelahnya. Sesungguhnya pada masa yang akan datang ada kaum yang suka berkhianat dan tidak bisa dipercaya, mereka bersaksi sebelum diminta kesaksiaannya, bernazar tapi tidak melaksanakannya, dan nampak pada mereka ke-gemukan".

Dalam riwayat sahih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:


«ثُمَّ يَخْلُفُ قَوْمٌ يُحِبُّونَ السَّمَانَةَ، يَشْهَدُونَ قَبْلَ أَنْ يُسْتَشْهَدُوا»
"Kemudian datang kaum yang suka menggemukkan badan, mereka bersaksi sebelum diminta bersaksi."

Imam Qurthubi (671H) rahimahullah berkata: Hadits ini adalah celaan bagi orang gemuk, karena gemuk yang disengaja disebabkan karena banyak makan, minum, santai, foya-foya, selalu tenang, dan terlalu mengikuti hawa nafsu. Ia adalah hamba bagi dirinya sendiri dan bukan hamda bagi Tuhannya, orang yang hidupnya seperti ini pasti akan terjerumus kepada yang haram, dan semua daging yang tumbuh dibadannya dari yang haram maka neraka adalah tempat yang tepat yang layak baginya. Allah -subhanahu wa ta'aalaa- telah mencela orang kafir karena banyak makan, dalam firman-Nya:


{وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَهُمْ} [محمد: 12]
"Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. dan Jahannam adalah tempat tinggal mereka". [Muhammad:12]

Maka jika seorang mukmin meniru mereka dan menikmati kenikmatan dunia setiap saat, lantas dimana hakikat keimanan dan pelaksanaan Islam pada dirinya? Barangsiapa yang banyak makan dan minum, maka ia akan semakin rakus dan tamak, bertambah malas dan banyak tidur di malam hari. Siang harinya dipakai untuk makan dan minum, sedangkan malamnya hanya untuk tidur. [Jami' li Ahkam Al-Qur'an 13/394]

Dalam hadits lain dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:


" إِنَّهُ لَيَأْتِي الرَّجُلُ العَظِيمُ السَّمِينُ يَوْمَ القِيَامَةِ، لاَ يَزِنُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ، وَقَالَ: اقْرَءُوا {فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا} [ الكهف : 105 ] " .


Sesungguhnya akan didatangkan seseorang yang sangat gemuk pada hari kiamat, akan tetapi timbangannya disisi Allah tidak seberat sayap lalat. Bacalah firman Allah: "Dan kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat". [Sahih Bukhari dan Muslim]
Imam An-Nawawi (676H) rahimahullah mengatakan: Hadits ini adalah celaan bagi orang yang gemuk. [Syarah sahih Muslim 17/129]

Ja'dah Al-Jusyamy radhiyallahu 'anhu berkata: Aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menunjuk perut seorang yang gemuk dan berkata:


 " لَوْ كَانَ هَذَا فِي غَيْرِ هَذَا، كَانَ خَيْرًا لَكَ "
"Seandainya ini bukan di sini, pasti akan lebih baik". [Mustadrak Al-Hakim: Sanadnya bagus]

Imam Syafi'iy (204H) rahimahullah berkata: Sama sekali tidak akan beruntung orang yang gemuk, kecuali Muhammad bin Hasan Asy-Syaibany (189H). Imam Syafi'iy ditanya: Kenapa demikian? Beliau menjawab: Karena seorang yang berakal tidak lepas dari dua hal; sibuk memikirkan urusan akhiratnya atau urusan dunianya, sedangkan kegemukan tidak terjadi jika banyak pikiran. Jika seseorang tidak memikirkan akhiratnya atau dunianya berarti ia sama saja dengan hewan.

Kemudian Imam Syafi'iy menceritakan kisah seorang raja yang sangat gemuk sampai tidak bisa berbuat apa-apa. Sang raja mengumpulkan para dokter dan berkata: "Carilah cara untuk mengurangi berat badanku". Akan tetapi tidak seorang dokterpun yang bisa memberi solusi.

Kemudian sang raja mendengar tentang seorang yang pandai, beradab, bisa mengobati, dan meramal. Lalu sang raja mengutus seseorang kepadanya meminta pengobatan dan akan diberi kekayaan.

Orang pintar berkata: "Semoga Allah menyembuhkan sang raja, saya adalah seorang dokter dan peramal, maka berilah saya kesempatan malam ini untuk melihat nasib yang mulia, dan obat apapun yang sesuai dengan ramalan nasib yang mulia maka akan aku berikan".

Keesokan harinya, orang pintar berkata: "Wahai sang raja, beri aku perlindungan!".

Raja menjawab: "Jangan takut, kamu akan aman".

Orang pintar berkata: "Aku telah melihat ramalan yang mulia dan menunjukkan bahwa umur yang mulia hanya tinggal satu bulan. Maka terserah yang mulia, apakah masih mau aku obati atau tidak. Dan kalau yang mulia tidak percaya, maka tahanlah aku disini. Jika perkataanku benar, maka bebaskan aku. Dan jika tidak, maka hukumlah aku".

Lalu sang raja menahannya, kemudian pergi menyendiri jauh dari rakyatnya. Perasaan risau terus menghantuinya, ia terus menunduk tidak pernah mengangkat kepala, menghitung hari demi hari sisa hidupnya. Makin bertambah hari berlalu, makin bertambah pula rasa cemasnya. Sampai akhirnya ia menjadi kurus, setelah berlalu 28 hari.
Kemudian sang raja memanggil orang pintar tersebut dan berkata: "Bagaimana menurutmu?"

Orang pintar berkata: "Semoga Allah memuliakan sang raja, saya lebih hina dihadapan Allah untuk mengetahui yang gaib. Dami Allah umur saya pun tidak aku ketahui, lalu bagaimana mungkin aku mengetahui umur yang mulia? Aku sama sekali tidak punya obat kegemukan kecuali rasa khawatir dan cemas, dan aku tidak bisa membuat yang mulia merasa cemas kecuali dengan cara ini.

Akhirnya tubuh sang raja tidak gemuk lagi, dan orang pintar tersebut diberi hadiah yang baik.

Wallahu a'lam !

Tuesday, April 9, 2013

Jaga Lidah Apabila Berbicara

INDIVIDU berkualiti dapat dinilai daripada kemampuannya menjaga lisan iaitu lidahnya. Mereka yang beriman pasti akan menjaga tutur bicaranya daripada mengeluarkan perkataan buruk.

Dalam hal ini, Rasulullah pernah bersabda yang bermaksud: Siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia berkata baik atau diam (Hadis riwayat Bukhari &Muslim).

Baginda adalah contoh manusia yang sangat menjaga tutur katanya. Rasulullah akan berbicara atau berkhutbah di hadapan orang ramai secara berakhlak dan baginda juga adalah individu yang sangat jarang berbicara.

Namun, sekali berbicara, isi bicaranya pasti ada kebenarannya. Nilai ucapannya sangat tinggi seolah-olah mutiara yang indah dan bermutu. Ucapan baginda menembus hati, menggugah kesedaran, membekas ke jiwa serta dapat mengubah perilaku orang dengan izin Allah.

Atas sebab itu, Rasulullah digelar Al-Amin kerana sejak kecilnya lagi tidak pernah berdusta. Justeru, jika kita ingin tahu kualiti seseorang itu, lihat saja apa yang sering dikeluarkan daripada mulutnya.

Manusia dapat dikategorikan kualitinya kepada empat berdasarkan kualiti tutur bicaranya. Pertama, orang yang berkualiti tinggi. Jika mereka berbicara, isinya sarat dengan hikmah, idea, gagasan, ilmu, zikir dan penyelesaian.

Orang seperti ini bicaranya bermanfaat pada dirinya sendiri dan juga bagi orang lain yang mendengarnya. Malah, apabila diajak berbual pastinya ada manfaat ilmu. Bicara mereka bermotivasi dan berpandangan positif dalam setiap perkara yang diutarakan.

Kedua, orang yang biasa-biasa saja. Ciri orang seperti ini adalah mereka sibuk menceritakan peristiwa contohnya melihat kemalangan jalan raya atau rompakan, dia juga pasti akan menceritakannya seolah-olah diri mereka berada di tempat itu.

Jika melalui semua bicara itu orang lain dapat mengambil hikmah maka tidak rugi, tapi jika sekadar memenatkan mulut sendiri tanpa manfaat tentu ia sia-sia.

Ketiga, orang rendah kualiti diri. Cirinya jika berbicara isinya hanya mengeluh, mencela dan menghina. Apa saja akan jadi bahan keluhannya. Contohnya, mereka sering mengeluh banyak masalah.

Mereka juga tidak tahu menghargai sesuatu misalnya, Jika dihidangkan makanan akan keluar keluhannya seperti kenapa lauk ini kurang sedap, namun begitu habis juga dimakannya.

Hari-harinya dipenuhi dengan bersungut seolah-olah segala yang berlaku penuh kekurangan. Alangkah ruginya hidup orang kategori seperti ini kerana seolah-olah tidak dapat membezakan nikmat dan musibah.

Keempat, orang yang cetek fikirannya iaitu mereka yang bicaranya hanya mengenai kehebatan dirinya atau kebaikan dirinya sedangkan hidup adalah pengabdian diri kepada Allah.

Mengapa mereka perlu bangga diri kerana semua itu kurniakan Allah. Golongan seperti itu sering dilihat menonjol dan mendominasi. Jika ada yang lebih baik darinya hatinya berasa tidak senang dan berharap orang itu segera jatuh.

Oleh itu berhati-hati apabila berbicara. Jagalah tutur percakapan kita dan kurangkanlah berkata-kata kerana ia akan mengurangi kesalahan kata kita. Jaga lidah sebaik mungkin kerana ia adalah amanah Allah s.w.t.

Sumber: http://mukmin.com.my

Thursday, March 14, 2013

Keberkatan Rezeki

Oleh AMINUDIN MANSOR

DALAM kehidupan manusia terutamanya umat Islam, mata pencarian dan hasil kerja dikenali sebagai rezeki. Dalam hal ini umat Islam mestilah mencari rezeki yang halal bagi diri dan keluarganya. Rezeki tersebut mestilah rezeki yang halal daripada hasil usaha tangannya sendiri.

Pada masa kini punca rezeki adalah berbagai-bagai. Pun begitu, punca rezeki daripada perniagaan lebih menampakkan hasilnya. Walau bagaimanapun keberkatan dalam mencari rezeki sewajarnya diberikan perhatian. Rezeki yang halal lagi berkat akan membawa manfaat sehingga ke akhirat.

Secara jelas, rezeki adalah bahan keperluan untuk hidup seperti makanan sehari-hari atau nafkah buat keluarga, pendapatan, penghasilan dan pencarian seseorang. Selama masih hidup manusia akan tetap diberikan rezeki oleh Allah SWT, sama ada sedikit ataupun banyak. Rahmat Allah amat luas, bersyukurlah dengan nikmat Allah dan carilah rezeki yang halal, jangan makan rezeki yang haram.

Rasulullah SAW bersabda: "Mencari rezeki yang halal adalah wajib sesudah menunaikan yang fardu (seperti solat, puasa dan lain-lain)."

Jelaslah, rezeki yang halal amat penting kepada umat Islam. Selain itu, rezeki tersebut mestilah berkat dan diterima oleh Allah SWT.

Berkaitan dengan rezeki yang tidak lancar dalam Musnad Ahmad, Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya seorang hamba diharamkan daripada rezeki kerana maksiat yang ia lakukan." (riwayat Ibn Majah dan Ahmad, Ibn Hibbah dan Ibn al- Mubarak).

Oleh itu, ketakwaan kepada Allah akan mendatangkan rezeki, sebaliknya maksiat akan mendatangkan ketakwaan, tidak ada jalan yang paling baik untuk mendapat rezeki yang halal dan berkat selain meninggalkan maksiat.

Dalam peribahasa Melayu terdapat kata-kata, 'Rezeki secupak tidak akan jadi segantang' bermaksud rezeki banyak atau sedikit sudah ditentukan Tuhan. 'Rezeki harimau' bermaksud, sewaktu ada makanan banyak dan berjenis-jenis. 'Rezeki jangan ditolak' bermaksud untung jangan dibuang (dibiarkan terlepas). 'Rezeki mahal' bermaksud susah mencari penghidupan, jarang mendapat keuntungan. "Rezeki helang tidak akan dapat dimakan oleh musang (burung pipit), maksudnya semua orang ada kemujurannya masing-masing yang ditetapkan oleh Allah, keuntungan seseorang tidak boleh direbut oleh orang lain.

Begitulah dalam dan luasnya tafsiran rezeki daripada kaca mata dan budaya orang Melayu, dengan pandangan penuh bijaksana untuk direnungi oleh generasi akan datang sebagai panduan dalam kehidupan.

Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya Ruhul Qudus (malaikat Jibrail) membisikkan dalam benakku bahawa jiwa tidak akan mati sebelum lengkap dan sempurna rezekinya. Kerana itu hendaklah kamu bertakwa kepada Allah dan memperbaiki mata pencarianmu. Apabila datangnya rezeki itu terlambat, janganlah kamu memburunya dengan jalan maksiat kepada Allah kerana apa yang ada di sisi Allah hanya boleh diraih dengan ketaatan kepada-Nya." (riwayat Abu Dzar dan Al-Hakim).

Rezeki yang berkat dapat diraih pada waktu pagi. Nabi SAW bersabda: "Bangunlah pada pagi hari untuk mencari rezeki dan keperluan-keperluanmu. Sesungguhnya pada pagi hari terdapat berkat dan keuntungan." (riwayat Ath-Thabrani dan Al-Bazzaar).

Dalam hadis yang lain Nabi SAW juga bersabda: "Ya Allah, berkatilah umatku pada waktu pagi hari mereka (waktu fajar).

Ini dijelaskan lagi oleh Nabi SAW dalam sabdanya: "Selesai solat fajar (Subuh) janganlah kamu tidur sehingga melalaikan kamu untuk mencari rezeki." (riwayat Ath-Thabrani).

AMINUDIN MANSOR ialah bekas pendidik berkelulusan Ijazah Kedoktoran Persuratan Melayu.

Sumber: http://www.utusan.com.my/

Tuesday, February 19, 2013

Hasad dengki sifat iblis

Oleh WAN JEMIZAN W. DERAMAN
dan AHMAD TERMIZI MOHAMED DIN

Islam benarkan iri hati dalam perkara positif seperti mencemburui kejayaan orang lain agar kita juga berjaya seperti mereka. - Gambar hiasan

TUGAS seorang pengintip adalah mencari rahsia atau maklumat yang berharga untuk disalurkan kepada pihak-pihak tertentu. Sebagai imbal balik, si pengintip akan memperolehi manfaat tertentu untuk kepentingan hidupnya.

Demikianlah analogi mudah yang kita boleh tempelkan kepada mereka yang suka mencari kesalahan orang lain. Sikap ini sebenarnya terhasil dari sifat hasad dengki yang tidak berkesudahan.

Tanda mudah untuk mengesan penyakit ini adalah seseorang itu merasa susah hati apabila melihat kesenangan yang dinikmati oleh orang lain sebaliknya seronok apabila melihat orang lain mendapat kesusahan.

Hasad adalah kalimah bahasa Arab yang bermaksud dengki. Dalam laras bahasa Melayu, kedua-dua kalimah Arab dan Melayu ini digabungkan, mungkin sebagai kata penguat kepada kalimah pertama.

Orang yang mempunyai perasaan hasad dengki sentiasa berada dalam keadaan resah serta gelisah. Antaranya disebabkan tidak senang dengan kejayaan orang lain yang maju terus kehadapan. Penyakit ini umpama satu virus bahaya yang telah merebak ke seluruh hati-hati sehingga sukar diubati.

Benarlah apa yang dinyatakan oleh Nabi SAW: “Akan menjalar kepada kamu penyakit umat-umat yang terdahulu; hasad dan benci-membenci. Itu sebenarnya pencukur. Aku tidak menyatakan pencukur rambut, tetapi ia mencukur agama”. (riwayat At-Tirmidzi).

Hasad hukumnya haram dan termasuk dalam kategori dosa-dosa besar. Orang yang memiliki sifat ini dikira memiliki akhlak yang tercela. Malah sifat hasad dengki ini merupakan salah satu sifat iblis.

Sifat hasad dengki bukan sahaja boleh membahayakan fizikal malah lebih bahaya daripada itu ia boleh merosakkan agama.

Allah berfirman: Jika kamu memperoleh kebaikan, nescaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira kerananya. (ali-‘Imran: 120).

Lantaran sifat hasad dengki ini kesannya sangat buruk maka Allah memerintahkan kita berlindung daripada keburukannya sebagaimana firman-Nya yang bermaksud: Dan dari kejahatan pendengki apabila ia dengki. (al-Falaq: 5).

Rasulullah juga memperingatkan dalam hadis yang bermaksud: “Hati-hatilah kamu daripada hasad dengki kerana hasad dengki itu akan memakan semua amal kebaikan sebagaimana api memakan kayu kering atau rumput kering”. (riwayat Imam Abu Daud).

Dalam hadis yang lain Rasulullah juga melarang sebagaimana sabdanya yang bermaksud: Janganlah kalian saling dengki (riwayat Muslim)

Dalam institusi keluarga, perasaan hasad dengki mungkin boleh berlaku di kalangan adik-beradik, ipar-duai dan sebagainya. Ia akhirnya menyebabkan hubungan kekeluargaan menjadi renggang dan semakin jauh.

Pejabat atau tempat kerja juga salah satu tempat berleluasanya penyakit hasad dengki ini. Hal ini dapat diperhatikan apabila menjelang musim kenaikan pangkat, perolehan bonus dan sebagainya.

Perasaan ini muncul apabila kita membandingkan kejayaan orang lain dengan kejayaan atau kegagalan yang ada pada diri kita. Lebih buruk lagi, hasad dengki biasanya datang bersama dengan perancangan untuk menjatuhkan orang tersebut.

Sepatutnya, dalam hal ini, kita perlu melihat kejayaan orang lain sebagai pemangkin untuk kita tingkatkan usaha dan prestasi bagi bersaing secara sihat dengannya.

Namun, mereka yang ditimpa penyakit hasad dengki ini merasakan kejayaan orang lain itu sebagai ancaman terhadap dirinya dan sebagai penghalang kepadanya untuk maju ke hadapan.

Cara yang paling mudah memuaskan hatinya adalah dengan mencari kesalahan orang lain untuk mencalar reputasinya di kalangan rakan-rakan sepejabat mahupun majikan.

Suasana ini akan berlanjutan sehinggalah ada yang sanggup menuduh rakan-rakan sekerja dengan tuduhan melampau serta ada yang sanggup untuk melemparkan fitnah semata-mata hasad dengki dengan kelebihan yang diberikan oleh Allah SWT kepada orang lain.

Semuanya adalah untuk memastikan kedudukannya tidak tergugat sekali gus menjamin laluannya untuk berada di kemuncak terbuka luas.

Sumber: http://www.utusan.com.my/

Monday, December 17, 2012

Hidup berkat, terselamat daripada api neraka dengan bersedekah

UMAT Muhammad SAW diberi kemuliaan dan pahala besar atas perbuatan sedekah oleh Allah SWT. Malah, amalan sedekah mempunyai rahsianya tersendiri antaranya sedekah dapat menambah umur seseorang, dapat menghilangkan akhlak buruk serta menjaga seseorang daripada kefakiran.

Diriwayatkan dari ‘Amr bin ‘Auf bahawa dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda bermaksud: Sesungguhnya sedekah seorang muslim dapat menambah umur(nya), dapat mencegahnya dari kematian yang tidak baik, dan dengannya Allah akan menghilangkan sifat sombong , kefakiran dan sifat berbangga hati.”

Ungkapan ‘dapat menambah umur’ membawa maksud sedekah dapat menyebabkan seseorang mendapat keberkatan dalam umurnya iaitu dengan menghabiskan umurnya melakukan perbuatan salih (baik) walaupun dalam waktu sedikit.

Diriwayatkan dari 'Amr bin 'Auf bahawa dia berkata: "Rasulullah SAW bersabda bermaksud: Sesungguhnya sedekah seorang muslim dapat menambah umur(nya), dapat mencegahnya dari kematian yang tidak baik, dan dengannya Allah akan menghilangkan sifat sombong , kefakiran dan sifat berbangga hati."

Sedekah juga dapat menjadikan harta seseorang semakin bertambah dan diberkati Allah SWT serta dapat menjauhkannya daripada hal yang dapat merosakkan. Rasulullah SAW bersabda: “Sedekah tidak akan mengurangi (sedikit pun) dari harta (seseorang).”

Maksudnya, meskipun nampak terjadi pengurangan dalam jumlah harta dikeluarkan, akan tetapi pada hakikatnya pengurangan itu akan tertutup dengan keberkatan yang bersifat tersembunyi dan pahala yang dijanjikan Allah SWT.

Sedekah juga dapat menjadi penyelamat seseorang daripada api neraka, kerana itu jagalah kalian daripada api neraka meskipun dengan menafkahkan sepotong (separuh) kurma.

Diriwayatkan daripada ‘Adiy bin Hatim, bahawa di berkata: “Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: Jagalah diri kalian dari api neraka meskipun dengan (menafkahkan) sepotong kurma.”
Secara umum, hadis ini mengandungi anjuran untuk bersedekah meskipun dengan jumlah yang sedikit kerana meskipun jumlahnya sedikit, dapat menutup diri orang yang bersedekah daripada api neraka. Ini adalah salah satu manfaat sedekah.

Buku Lah Tahzan untuk Umat Muhammad

Sumber: http://www.bharian.com.my/

Wednesday, October 24, 2012

Waspada Pesona Harta

berhati-hatilah dengan harta kerana ia dapat melalaikan mereka daripada peringatan Allah SWT. - Gambar hiasan

HARTA adalah merupakan anugerah Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya. Sebagaimana kurniaan dan anugerah yang lain, harta yang diperoleh oleh seseorang itu sebenarnya adalah ujian daripada Allah SWT.

Walaupun harta tersebut berada dalam pemilikan kita, namun ia bukanlah bermakna harta tersebut boleh digunakan dan dibelanjakan sewenang-wenangnya.

Ia bukanlah milik mutlak yang mendatangkan kebebasan kepada kita untuk mendapatkannya dan membelanjakannya mengikut kehendak hati tanpa adanya pertimbangan dustur Ilahi.

Mengetahui sifat manusia yang sangat cintakan harta, maka Allah SWT membenarkan aktiviti atau kegiatan perolehan harta dan perbelanjaannya. Akan tetapi, ia tidak terhenti setakat itu sahaja.

Di samping kebenaran memanfaatkan harta, Allah SWT mendatangkan beberapa sekatan dan batasan agar manusia dapat menggunakan harta tanpa membinasakan dirinya dan tidak mendatangkan kerosakan kepada manusia yang lain.

Oleh yang demikian, dalam kita mencari dan membelanjakan harta, kita tidak harus sama sekali membelakangi wahyu Allah SWT yang terkandung dalam al-Quran dan sunnah. (rujuk al-Munafiqun: 9)

Dalam ayat tersebut, Allah SWT telah memberikan amaran kepada orang-orang yang beriman supaya berhati-hati dengan harta kerana ia dapat melalaikan mereka daripada peringatan Allah SWT. Jelas di sini menunjukkan bahawa Allah SWT memberikan keizinan kepada manusia untuk berusaha memperoleh harta. Namun mereka perlu mengawasi diri mereka daripada terlalai dan terleka.

Golongan yang dilalaikan dengan harta boleh dilihat daripada beberapa sudut. Golongan pertama, harta boleh melalaikan manusia dalam konteks hubungan dengan Allah SWT. Golongan yang pertama ini biasanya terdiri daripada orang-orang yang telah menyibukkan dirinya mengejar harta sehingga tidak sempat untuk menunaikan kewajipan kepada Allah SWT.

Ada di kalangan mereka yang meremeh-temehkan solat sehingga sanggup mengerjakannya di akhir waktu dengan alasan perlu mendahulukan janji temu dengan pelanggan dan sebagainya. Sebahagiannya terlepas waktu solat kerana asyik bermesyuarat atau sibuk melayan pelanggan sehingga luput waktu solat.

Sebahagiannya pula ada yang pulang ke rumah pada lewat malam kerana meraikan hari jadi pelanggan di kelab-kelab sehingga terlepas solat Subuh kerana badan yang terlalu letih.

Ada pula yang asyik menangguhkan amalan fardu haji walaupun dirinya sudah lama memenuhi syarat wajib melakukan haji. Namun, berkali-kali haji ditangguhkan kerana memikirkan keuntungan perniagaan yang akan terlepas sekiranya pergi menunaikan haji.

Apabila mereka sudah lalai daripada mengingati Allah SWT, maka bukan sahaja hati mereka tidak tenteram, bahkan rumah-rumah mereka tidak damai dan harmoni kerana sunyi daripada ingatan dan zikir kepada Allah SWT. (rujuk an-Nur: 37)

Golongan kedua yang dilalaikan dengan harta ialah dalam konteks hubungan dengan manusia. Golongan ini sanggup untuk menganiaya orang lain dengan melakukan penipuan dan pengkhianatan semata-mata untuk mengejar keuntungan duniawi. Sedangkan Allah SWT memerintahkan manusia menjaga harta orang lain sebagaimana dia menjaga dan memelihara hartanya sendiri. Sekiranya dia tidak rela dan tidak sanggup hartanya diambil secara zalim, begitu juga seharusnya perasaannya kepada harta orang lain.

Nabi SAW bersabda: Setiap orang Muslim ke atas Muslim itu haram darahnya, hartanya dan maruah dirinya. (riwayat Muslim)

Golongan ini juga melupakan tanggungjawab terhadap manusia yang memerlukan bantuan dan pertolongan. Lalu mereka enggan untuk membayar zakat dan memberi sumbangan kepada fakir miskin kerana ia dianggap sebagai kerugian besar.

Sedangkan Nabi SAW telah memberikan jaminan bahawa harta yang disedekahkan dan didermakan akan mendatangkan keberkatan kepada kehidupan si pemberi.

Sabda Rasulullah SAW: Tidak akan dikurangkan harta dengan sebab bersedekah, Allah tidak menambah keampunan seseorang hamba melainkan seseorang itu ditambahkan dengan kemuliaan. Tidaklah seseorang itu merendah diri kerana mengharapkan keredaan Allah melainkan akan diangkatkan darjatnya. (riwayat Muslim)

Orang-orang yang sanggup untuk memberikan sumbangan hartanya pada jalan Allah SWT sebenarnya telah berjaya melalui satu ujian dalam kehidupannya.

Hakikatnya, Allah SWT menjadikan kemiskinan untuk menguji si miskin, sama ada reda dan sabar dengan ketentuan-Nya itu. Si miskin juga akan diuji, sama ada dia sanggup mencari pendapatan yang haram untuk mengatasi kemiskinannya.

Allah SWT juga mencipta kekayaan kerana ingin menguji si kaya adakah dia bersyukur dan membantu si miskin.

Lantaran itu, Allah SWT berfirman: Sesiapa yang menjaga serta memelihara dirinya daripada dipengaruhi oleh tabiat bakhilnya, maka merekalah orang-orang yang berjaya. (al-Taghabun: 16)

Golongan ketiga yang dilalaikan oleh harta ialah dalam konteks dirinya sendiri. Mereka gagal mengawal diri mereka daripada penyakit hati seperti tamak, hasad dengki, dendam dan sebagainya. Bahkan, mereka menjadi sombong dan ego sehingga menganggap dirinya melebihi orang lain daripada segala sudut. Lalu mereka bermegah-megah dengan hartanya sehingga membelanjakan hartanya bukan untuk keperluan, sebaliknya ia adalah untuk menunjuk-nunjuk akan status dan kekayaan mereka. (rujuk al-Taghabun: 16)

Kesimpulannya, terdapat tiga ancaman harta kepada kita iaitu dalam konteks hubungan dengan Allah SWT, hubungan dengan manusia yang lain dan terhadap diri sendiri. Marilah sama-sama kita menjaga diri agar tidak termasuk dalam mana-mana kelompok ini. Berwaspada agar diri tidak terlalu terpesona dengan harta sehingga kelalaian itu makin meningkat dan akhirnya menyesal apabila maut menjelang tiba.

Oleh WAN JEMIZAN W. DERAMAN dan AHMAD TERMIZI MOHAMED DIN

Sumber: http://www.utusan.com.my/

Miskin Hati, Iman Lebih Parah Daripada Tiada Harta


ILMU dapat mengubah hidup masyarakat miskin. 

Ilmu pengetahuan boleh ubah hidup masyarakat, harta

MANUSIA mempunyai dua tugas utama sebagai hamba dan khalifah Allah SWT. Bagaimanapun, Allah SWT dengan kasih sayangnya tidak membiarkan hamba-Nya yang beriman dalam keadaan terbeban dengan cara mengurniakan panduan penting iaitu al-Quran dan al-Sunnah.

Manusia harus ada Allah SWT dan Rasul dalam hatinya yang menjadi kekuatan dalam kehidupan. Adanya Allah dan Rasul, maka tidak akan ada lagi kebejatan sosial, kepincangan politik dan kemelesetan ekonomi.

Sekiranya kita ada ilmu, ilmu akan menjaga kita, tetapi sekiranya kita ada banyak harta, kita yang akan menjaga harta

Islam menekankan kejayaan dunia hingga akhirat dan kerana itu Islam menyediakan panduan berkaitan setiap aspek urusan supaya umat dapat menggunakannya sebaik mungkin termasuklah dalam soal mengurus kemiskinan.

Kemiskinan sering dilihat sebagai keadaan yang menyusahkan, tetapi sebenarnya tidak. Kemiskinan mampu memberikan pulangan positif kepada kesaksamaan dari sudut kestabilan ekonomi.

Bayangkan jika semua kaya, apa akan jadi pada sebuah negara? Sudah tentu berlaku lambakan duit yang menyebabkan inflasi dan nilai wang itu akan menjadi rendah. Inflasi juga menyebabkan barangan asasi menjadi mahal dan boleh terjadi untuk membeli sebuku roti memerlukan segenggam duit kertas.

Bagaimanapun, mustahil sebuah negara itu dihuni oleh semua masyarakatnya yang miskin. Secara logiknya, jika ada orang miskin sudah tentu ada orang kaya. Malaysia mempunyai paras kemiskinan yang tertentu berbanding negara lain.
Gaji minimum ditetapkan di bandar besar seperti Kuala Lumpur ialah RM1,500, dan mereka yang berada di bawah paras itu dianggap miskin. Maka, istilah kemiskinan itu subjektif dan tidak boleh diukur hanya melihat kepada pendapatan saja.

Kemungkinan, gaji bulanan hanya RM1,000, tetapi mereka mempunyai punca pendapatan lain daripada hasil perniagaan sambilan menjadikan hasil pendapatan bulanan mencecah jumlah RM2,500.

Pengamalan ideologi kapitalis, harta cenderung bertumpu kepada golongan yang kaya, manakala orang miskin cenderung menjadi lebih miskin. Maka, kemiskinan tidak dapat dihapuskan.

Bagaimana cara untuk mengurangi kadar kemiskinan? Ada pandangan mengatakan kemiskinan bukanlah suatu masalah perlu ditangani dengan memberikan wang ringgit sebagai keperluan peribadi semata-mata, tetapi ia berhubung kait dengan isu (qalbi) atau hati.

Allah SWT berfirman bermaksud: “Oleh itu, bukankah ada baiknya mereka mengembara di muka bumi supaya dengan melihat kesan-kesan itu, mereka menjadi orang ada hati yang dengannya mereka dapat memahami, atau ada telinga yang dengannya mereka dapat mendengar. (Tetapi kalaulah mereka mengembara pun tidak juga berguna) kerana keadaan yang sebenarnya bukanlah mata kepala yang buta, tetapi yang buta itu ialah mata hati yang ada di dalam dada mereka.” (Surah al-Hajj, ayat 46).

Kemiskinan bukanlah penghalang utama kepada kemajuan negara, tetapi kemiskinan perlu diolah mengikut situasi semasa. Kadang-kadang kemiskinan mampu memberi ketenangan berbanding hidup dalam kekayaan.

Kemunduran sesebuah negara berlaku apabila adanya masyarakat yang bukan saja miskin dari segi harta, bahkan miskin dari segi hati dan keimanan. Inilah yang dinamakan miskin, miskin dan miskin. Namun, tidak dinafikan kemiskinan boleh melambatkan kemajuan negara.

Apabila malas telah menguasai diri, ia akan merebak kepada sifat mazmumah yang lain. Malas boleh menjadi punca kepada jenayah lebih besar seperti dadah, judi dan lain-lain. Malas juga boleh menyebabkan keruntuhan rumah tangga kerana apabila malas bekerja sudah tentu tiada wang.

Kemiskinan selalunya berpunca daripada kemiskinan ilmu pengetahuan. Ketiadaan ilmu, masyarakat mudah tertipu dengan pelbagai skim cepat kaya menyebabkan mereka jatuh bankrap. Ketiadaan ilmu juga boleh menyebabkan masyarakat terpinggir daripada arus kemodenan seterusnya menjadi penat dalam mengejar kemajuan.

Sebenarnya bukan semua orang bernasib baik menjadi kaya dengan hanya berniaga. Ramai juga yang kecundang. Walaupun begitu, dengan adanya ilmu kita tidak akan mudah jatuh miskin.

Saidina Ali berkata: “Sekiranya kita ada ilmu, ilmu akan menjaga kita, tetapi sekiranya kita ada banyak harta, kita yang akan menjaga harta.”

Namun, untuk memastikan ilmu itu tidak menjadi sia-sia semestinya kemajuan negara haruslah dibina ke arah kebaikan bukan dibina ke arah kemungkaran. Itulah jalan yang mampu menyelesaikan masalah miskin, miskin dan miskin.

Berdasarkan zaman pemerintahan Umar Abdul Aziz, tidak ada orang yang ingin menerima zakat. Hal itu bukan kerana kemiskinan sudah tidak wujud, tetapi disebabkan rasa malu untuk menerima zakat. Ia lahir daripada hati yang bersifat qanaah iaitu berasakan cukup.

Kemiskinan bukan hanya disebabkan kekurangan harta semata-mata, tetapi sebenarnya disebabkan kemiskinan iman dan takwa kepada Allah SWT. Apabila jiwa kaya automatik harta akan meningkat disebabkan iman dan takwa mampu meningkatkan kesungguhan untuk bekerja.

Oleh Mohd Syakir Mohd Rosdi
Sumber: http://www.bharian.com.my/

Friday, September 21, 2012

Sikap angkuh, sombong boleh jejaskan prestasi


Sikap bekerjasama dan saling membantu bukan sahaja menaikkan nama organisasi tetapi juga membuang sifat mazmumah seperti sombong. – Gambar hiasan

ISLAM melarang umatnya bersifat bangga diri dan merendahkan orang lain. Sebaliknya hendaklah bersifat hormat menghormati antara satu sama lain. Ini kerana semulia-mulia manusia di sisi Allah ialah mereka yang paling bertaqwa.

Ia sebagaimana firman-Nya yang bermaksud: Wahai umat manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari lelaki dan perempuan, dan Kami telah menjadikan kamu berbagai bangsa dan bersuku puak, supaya kamu berkenal-kenalan (dan beramah mesra antara satu dengan yang lain). Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisi Allah ialah orang yang lebih takwanya di antara kamu, (bukan yang lebih keturunan atau bangsanya). Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, lagi Maha Mendalam Pengetahuan-Nya (akan keadaan dan amalan kamu). (al-Hujurat: 13)

Kedudukan seseorang itu berbeza di sisi Allah kerana darjat takwa yang dimilikinya. Oleh sebab itu Islam melarang umatnya melakukan kezaliman dan membesar diri, lupa diri, bermegah-megah, bongkak sombong dan sebagainya.

Sifat sombong ini sangat bahaya dan sifat tersebut banyak membinasakan makhluk Allah sepanjang sejarah manusia di muka bumi ini.

Iblis sendiri diusir keluar dari syurga lantaran sifat sombongnya yang enggan sujud kepada Nabi Adam AS. Perdana Menteri Raja Firaun, Qarun, ditelan hidup-hidup ke dalam perut bumi bersama-sama dengan timbunan harta benda juga disebabkan kesombongannya.

Malah Firaun juga menemui ajal dalam keadaan yang hina kerana sifat sombong dan angkuhnya terhadap Allah SWT dan sebagainya.

Rasulullah SAW dalam hadisnya menjelaskan apa yang dimaksudkan dengan sifat sombong dan bahayanya sifat tersebut.

Ia sebagaimana sabda baginda yang bermaksud: Tidak masuk syurga sesiapa yang ada di dalam hatinya sedikit sifat sombong, kemudian seseorang berkata: (Ya Rasulullah) sesungguhnya seseorang itu suka pakaiannya bagus dan kasutnya bagus. Baginda bersabda: Sesungguhnya Allah itu indah dan Dia menyukai keindahan, (dan yang dimaksud dengan) kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan merendah-rendahkan orang lain. (riwayat Muslim)

Sombong merupakan salah satu sifat mazmumah (tercela) dan sifat ini sangat dibenci oleh Allah SWT.

Sifat tercela ini merupakan jalan ke neraka yang menyebabkan tertutupnya pintu-pintu ke syurga. Ini kerana akhlak mulia itu merupakan jalan atau pintu untuk ke syurga.

Terlalu banyak keburukan bersifat sombong, antaranya tentu sekali dibenci dan dimurkai Allah SWT dan juga Rasulullah SAW. Orang yang sombong tidak mempunyai perasaan kasih sayang sesama saudaranya yang mukmin sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.

Selain itu, seseorang yang memiliki sifat sombong ini juga tidak terlepas dari suka berdendam dan perbuatan mahupun percakapannya tidak boleh di percayai atau diguna pakai.

Golongan ini juga bukan pemberi nasihat yang baik dan nasihatnya tidak boleh diyakini. Api kemarahan sentiasa marak dalam dirinya dan amat sukar untuk dikawal.

Sombong boleh berlaku dalam pelbagai situasi di antaranya di dalam sesebuah organisasi atau di tempat kerja. Sifat ini sering menimbulkan masalah dalam urusan kerja seharian di sesebuah syarikat. Jika tidak dibendung daripada awal ia akan menjadi barah dan akan merosakkan organisasi berkenaan.

Ada orang yang sombong kerana menganggap dirinya lebih tinggi atau mulia daripada orang lain kerana pangkat yang ada pada dirinya.

Ada orang angkuh kerana pengalaman di dalam kerjanya sehingga merasakan bahawa dia adalah di kalangan yang layak dirujuk dan ada juga orang yang membangga diri kerana kepandaian yang melebihi dari orang lain.

Ini semua adalah penyakit hati boleh merosakkan sesebuah organisasi.

Penyakit ini jika tidak dirawat daripada awal akan menjadi punca kepada masalah perpecahan hati, fikiran, pertembungan idea yang tidak sihat dan akhirnya boleh memberi kesan kepada kemerosotan prestasi kerja.

Ini berlaku kerana masing-masing merasa diri dan kerjanya sempurna sehingga tidak mahu menerima cadangan, teguran atau pembaikan.

Sumber: http://www.harian-metro-online.com/

Tuesday, September 18, 2012

Ciri-ciri usahawan yang menepati ajaran islam.


Bersyukurlah kepada Allah,kerana dilahirkan islam.Bersyukurlah kepada Allah kerana diberikan rezeki menjalankan perniagaan.Mengerjakan perniagaan adalah amalan mulia dan dituntut dalam agama.Malah nabi saw adalah usahawan yang amanah,cemerlang dan menjadi tauladan yang baik.Setiap usahawan perlu menjadi usahawan yang menjalankan perniagaan dengan mematuhi ajaran agama dengan baik dalam kehidupan seharian dan perniagaan agarmenjadi usahawan yang benar-benar diredai Allah Maha Pencipta. Usahawan dan peniaga perlu mengetahui tentang ciri-ciri usahawan islam yang benar-benar menepati ajaran islam dan diakui oleh islam serta diredai Tuhan dan rasul-Nya.Antara ciri-ciri tersebut ialah:

1.Menunaikan solat lima waktu.

Usahawan perlu menunaikan solat lima waktu setiap hari.Solat adalah tiang agama yang perlu ditunaikan di mana sahaja berada.Ramai usahawan mengabaikan solat lima waktu kerana terlalu sibuk berniaga. Mementingkan wang sehingga mengabaikan solat.Usahawan tidak pernah memandang nasib pada masa hadapan iaitu akhirat.

Lihatlah berapa ramai usahawan yang menjalankan perniagaan di pasar malam,kedai-kedai,gedung perniagaan dan lain-lain leka serta cuai dalam menunaikan solat. Ketika azan berkumandang,usahawan sibuk menjalankan tugas dan mesyuarat demi mengejar keuntungan dan kekayaan.Meninggalkan solat adalah perkara biasa kepada segelintir usahawan. Apabila usahawan meninggalkan solat,ianya menunjukkan usahawan tidak memahami tujuan kehidupan dan pengertian ibadat kepada Allah. Dalam fikiran usahawan hanya wang dan harta. Usahawan yang mahu keredaan Tuhan dan rasul-Nya perlu menunaikan solat lima waktu ketika sibuk,susah atau senang.Bumi Malaysia yang luas dan kaya ini tidak kurang terdapat masjid,surau untuk kemudahan orang islam.Malah orang islam boleh menunaikan solat di mana sahaja,asalkan bersih. Meninggalkan solat kerana terlalu sibuk dengan perniagaan adalah alasan yang tidak diterima Allah di akhirat.

Manusia yang sentiasa berterima kasih kepada Allah ialah manusia yang menunaikan perintah Tuhan walau di mana pun berada.Menunaikan solat adalah kewajipan kepada orang islam yang mukallaf.Menunaikan solat bukan mengambil masa yang lama dan panjang. Luangkanlah masa mengerjakan solat.Jadilah usahawan yang diredai Allah dan nabi-Nya. Apalah guna mendapat rezeki yang banyak,memandu BMW,tinggal di banglo mewah,memiliki suami atau isteri yang cantik,mendapat anak-anak yang sihat, mampu melancong sana sini tetapi di dalam kubur nanti menerima pukulan mungkar dan nangkir, manakala akhirat kelah dihumban ke neraka. Itulah balasan usahawan yang mengabaikan solat.

2.Mementingkan rezeki halal.


Perniagaan mempunyai pelbagai cabang.Islam hanya menghalalkan segala jenis perniagaan yang bersih.Sikap usahawan yang tidak pernah mengambil berat isu halal haram adalah usahawan yang tidak mementingkan agama. Menjual dadah, arak, mengamalkan rasuah, judi, menipu, menyembunyikan aib produk,menjual produk tarikh luput, monopoli, menyorok barang adalah antara contoh perniagaan yang dilarang sama sekali.Namun segelintir usahawan mahu cepat kaya dan mahu mengambil jalan pintas.

Wujud juga sesetengah usahawan yang menjalankan perniagaan halal seperti membuka restoran dan kedai makan tetapi tidak mementingkan sumber yang halal. Ada yang menjual ayam yang tidak disembelih dengan syariat dan cara yang betul,tidak membasuh telur dengan bersih kemudian memegang dan membuat roti canai,menggunakan susu dan bahan minuman yang telah luput tarikh,menipu dalam kiraan harga, menjual makanan yang telah basi dan lain-lain. Segala perbuatan tersebut jelas menyebabkan rezeki yang diperolehi usahawan menjadi tidak halal walaupun asal perniagaan adalah halal.

Begitu juga usahawan yang menipu dalam timbangan dan sukatan kerana mahu mengaut lebih keuntungan.Ada juga usahawan yang menjual emas yang telah dicampur dan mendakwa ianya asli dan tulin. Pelbagai usaha dan langkah dilakukan usahawan untuk mengaut keuntungan tanpa mengira perbuatan tersebut adalah salah. Usahawan yang mahu mendapat keredaan Allah perlu menjalankan perniagaan dengan cara yang jujur, amanah, bersih dan suci. Usahawan yang mementingkan rezeki yang halal adalah usahawan yang diakui Tuhan sebagai usahawan yang taat dan mendapat balasan baik di akhirat nanti.

Janganlah mementingkan keuntungan sehingga mengabaikan faktor halal dan haram. Rezeki yang haram akan membawa usahawan ke neraka nanti. Berusahalah menjalankan perniagaan yang halal dan pastikan perniagaan mendapat berkat dan bersih.

3.Sentiasa benar.

Kebanyakan usahawan berpendapat jika seseorang mahu berjaya dalam perniagaan perlu belajar menjadi penipu dan pembohong.Sifat berbohong dan menipu akan melariskan perniagaan. Memang tidak dinafikan berbohong akan mudah melariskan jualan dan memajukan
perniagaan kerana pelanggan mudah percaya dan tertarik dengan apa yang dikatakan usahawan. Walaubagaimanapun sikap berbohong dan menipu adalah sikap yang dibenci oleh Allah.Islam tidak pernah menghalalkan perbuatan berbohong untuk melariskan perniagaan.

“Berkatalah benar walau pahit sekalipun”, begitulah sabda nabi. Dan sebuah hadis bermaksud “Benar itu membawa kepada kebenaran dan kebenaran itu membawa kepada syurga”. Kedua-dua hadis tersebut jelas menunjukkan kepentingan sifat benar. Usahawan yang mahu mendapat keredaan Tuhan perlu sentiasa benar dalam apa jua yang dilakukan samaada dalam kehidupan seharian atau perniagaan. Jangan mengharapkan jualan yang laris dengan sikap berbohong. Berbohong akan menyebabkan rezeki yang diperolehi menjadi haram dan tidak berkat. Matlamat usahawan islam ialah hala dan berkat. Berbohong untuk mendapatkan keuntungan dan kemajuan dalam perniagaan tidak membawa keberkatan dan keredaan Tuhan.
Usahawan perlu sentiasa benar dalam apa jua keadaan. Jangan mengikut teladan sesetengah usahawan yang suka berbohong kerana perbuatan tersebut akan membawa musibah kepada usahawan nanti.Sifat buruk tersebut patut tiada dalam hidup usahawan islam yang mahu cemerlang.

Sentiasalah benar dalam perniagaan. Jangan menipu dan berbohong kerana tamakkan keuntungan.Jangan jadikan rezeki itu haram dan tidak berkat. Jangan campakkan diri dalam kerosakan akibat berbohong dan berdusta.

4.Mengutamakan hak pengguna.

Usahawan yang diredai Allah dan nabi-Nya adalah usahawan yang menjalankan perniagaan bukan semata-mata mengaut keuntungan tetapi juga mementingkan hak pengguna.Usahawan yang menjual daging ayam yang tidak disembelih dengan betul dan menepati syariat ialah usahawan yang tidak menghormati hak pengguna. Usahawan yang menjual dengan harga terlampau tinggi adalah usahawan yang tidak menghormati pengguna. Usahawan yang memuji kualiti produk melebihi kualiti sebenar adalah tidak bertanggungjawab.Usahawan yang menjual produk tiruan adalah tidak bertanggungjawab. Usahawan yang menjual produk yang membahayakan pengguna adalah tidak bertanggungjawab.Usahawan yang menyembunykan aib produk adalah tidak bertanggungjawab.

Usahawan yang bertanggungjawab dan menjaga hak pengguna tidak akan melakukan sebarang perbuatan yang menyusahkan pengguna dan pelanggan. Ketamakkan sesetengah usahawan mencari keuntungan sehingga sanggup melakukan apa sahaja dalam perniagaan sehingga menyusahkan pengguna dan pelanggan. Malah ada syarikat besar mencipta dan menjual produk yang memberi pelbagai kesan sampingan kepada pengguna. Sebagai contoh, Viagra. Walaupun produk tersebut mampu memberi tenaga istimewa kepada lelaki tetapi telah banyak berlaku kematian dan serangan jantung kepada pengguna.Ini menunjukkan syarikat berkenaan tidak bertanggungjawab kepada pengguna.

Pelbagai jamu,pil kesihatan keluaran tempatan dan luar negara dijual dipasaran. Kebanyakan usahawan tidak mengendahkan keselamatan pengguna. Apa yang penting ialah keuntungan. Walaupun pelbagai usaha dilakukan oleh kerajaan seperti mengharamkan produk yang berbahaya dan memberi kesan sampingan tetapi usahawandegil tetap mahu menjual dan boleh didapati di mana-mana dengan mudah.

Setiap manusia adalah pengguna.Begitulah juga dengan usahawan. Setiap usahawan perlu berhati-hati dalam perniagaan agar tidak melakukan perkara yang boleh menyusahkan pengguna.Usahawan yang mementingkan hak pengguna adalah usahawan yang diredai Tuhan.

5.Menunaikan zakat.

Islam adalah agama sederhana dan tidak menyusahkan umatnya. Zakat adalah rukun islam,namun ianya hanya diwajibkan kepada orang yang mampu sahaja. Apabila usahawan mampu dan layak mengeluarkan zakat,maka usahawan perlu mengeluarkan zakat. Wujud usahawan yang tidak menunaikan zakat walaupun layak. Alasannya ialah mahu menggunakan wang tersebut ke arah lain seperti melancong, membeli perhiasan,membeli barang kemas dan lain-lain. Usahawan degil merasa rugi mengeluarkan zakat walaupun tahu zakat itu wajib. Usahawan yang mahu keredaan Allah tidak akan mengabaikan zakat. Usahawan cemerlang akan memiliki akaun untung-rugi setiap tahun supaya dapat mengesan perniagaan. Mempunyai akaun akan membantu usahawan agar tahu sama ada layak atau tidak membayar zakat. Ketika zaman nabi masih hidup, wujud usahawan yang degil dan enggan membayar zakat walaupun tahu ianya wajib. Ini menunjukkan telah wujud usahawan tamak dan rakus ketika baginda masih hidup. Apa lagi pada zaman ini.

Zakat akan membersihkan harta dan memberi banyak manfaat kepada orang memerlukan seperti orang miskin, orang cacat, fakir dan lain-lain. Usahawan perlu mempunyai akaun kira perniagaan dan membayar zakat jika layak jika mahu menjadiusahawan cemerlang dan diredai Tuhan. Malah harta zakat akan menjadi saksi nanti diakhirat kepada usahawan.

6.Sentiasa bersyukur.

Kebiasaannya manusia akan gembira bila mendapat nikmat dan kecewa dan sedih apabila ditimpa kesusahan dan masalah.Begitulah dengan usahawan. Usahawan perlu belajar menjadi manusia bersyukur ketika susah dan senang. Usahawan perlu bersyukur ketika perniagaan menampakkan kemajuan dan tidak kecewa apabila mengalami kemerosotan. Usahawan yang bersyukur akan merasakan kemerosotan sebagai ujian dan dugaan dari Allah.

Menjadi usahawan yang bersyukur akan membersihkan usahawan daripada segala sifat keji dan hina seperti hasad dengki, sombong, takabbur, ego dan mementingkan diri sendiri. Sifat syukur juga akan mendidik usahawan menjadi manusia yang sentiasa merendah diri. Usahawan perlu sentiasa bersyukur agar diredai Allah dan nabi-Nya.Jangan hanya tahu bersyukur apabila mendapat kesenangan tetapi menyalahkan Tuhan apabila ditimpa kesusahan dan masalah.

7.Sentiasa bertaubat.

Tiada manusia yang bersih tanpa noda,tidak terkecuali usahawan.Bertaubat adalah jalan membersihkan diri.Manusia sering lalai dan lupa.Manusia sering ditipu oleh nafsu dan syaitan. Usahawan perlu sering bertaubat untuk membersihkan diri.Jangan jadi usahawan yang suka menipu dan melakukan perbuatan haram,kemudian bertaubat untuk menghalalkan harta perniagaan. Ianya taubat yang tidak bernilai di sisi Tuhan. Harta haram tetap haram.I anya tidak akan menjadi halal walau ribuan zikir taubat dilaungkan. Justeru usahawan perlu menjauhkan perbuatan dan cara perniagaan yang haram. Amalkan cara dan panduan perniagaan berlandaskan suruhan dan ajaran agama.

8.Menjaga perhubungan baik dengan manusia.

Usahawan banyak berinteraksi dengan pengguna dan pelanggan. Justeru usahawan perlu menjaga hubungan baik.Bukan sahaja bermatlamat keuntungan dalam perniagaan tetapi mahu mengekalkan silaturahim,persaudaraan dan kemanusiaan. Usahawan perlu menjauhkan sikap yang menyakiti manusia lain seperti menggunakan perkataan kesat, sindiran, penghinaan dan lain-lain. Usahawan juga tidak patut memandang rendah kepada manusia lain terutama orang miskin dan hina. Sikap sombong dan ego terutama berhadapan manusia serba kekurangan patut dijauhi. Lihatlah bagaimana kereta mewah menghimpit penunggang motosikal, begitulah sikap manusia ego dan tidak bertanggungjawab.

Usahawan perlu menjaga tingkah laku dan perbuatan agar tidak dibenci manusia lain. Profesion usahawan bukanlah peluang menunjukkan kehebatan dan kebanggaan tetapi adalah cara mencari rezeki halal dan mendapat keredaan Tuhan disamping menjaga hubungan baik dengan manusia.

9.Berjasa.

Sebuah hadis bermaksud “Sebaik-baik manusia ialah orang yang paling bermanfaat kepada manusia lain”.Justeru usahawan boleh menjadi manusia yang paling banyak berjasa kepada manusia lain kerana usahawan dilimpahkan rezeki yang lebih banyak berbanding manusia yang makan gaji. Pelbagai perbuatan baik boleh dilakukan usahawan jika mahu berjasa. Binalah perpustakaan persendirian di kawasan anda dan beri peluang pelajar dan orang ramai memanfaatkannya. Bantulah anak yatim dan pelajar miskin.Bantulah ibu atau bapa tunggal yang susah.

Binalah perhentian bas. Berilah sumbangan untuk membina dewan, surau, tempat permainan dan lain-lain. Terlalu banyak perkara dan benda boleh dilakukan usahawan jika mahu menjadi manusia berjasa. Usahawan perlu mengejar keuntungan dan kekayaan, namun usahawan perlu berjasa kepada negara dan manusia lain.Jangan sia-siakan kekayaan dan keuntungan. Jadilah
usahawan yang dikenang kerana kebaikan,bukan usahawan yang banyak menghabiskan harta keuntungan di tempat maksiat dan dosa.

10.Membantu usahawan lain.

Jika anda berjaya dan cemerlang dalam perniagaan,bersyukurlah kepada Allah. Buktikan kasih sayang anda kepada bangsa dan agama dengan membantu usahawan lain supaya berjaya seperti anda. Andai anda berpeluang dan mempunyai kelapangan, manfaatkan masa untuk memberi ceramah kepada usahawan terutama usahawan baru, menulis artikel tentang perniagaan di akhbar dan majalah, menulis buku tentang perniagaan. Berikanlah ilmu, kemahiran, pengalaman dan pengetahuan kepada usahawan lain. Ramai usahawan menunggu buku karangan usahawan terkenal seperti Tun Daim Zainuddin, Tan Sri Halim Saad, Datok Saleh Sulong dan lain-lain.

Berikan idea dan pengalaman berguna kepada usahawan lain.Sekiranya tidak mampu membantu dengan wang ringgit,berikanlah ilmu.Ini berdasarkan sebuah pepatah cina yang bermaksud “Apabila seseorang meminta ikan, jangan beri ikan tetapi berilah pancing dan ajarkan dia memancing ”.

11.Menjauhi maksiat.

Usahawan perlu mengelakkan perbuatan dosa terutama sekali dosa-dosa besar. Melakukan pelbagai dosa dan maksiat akan menjadikan usahawan manusia yang tidak mencintai agama. Ramai usahawan menghabiskan masa bermain golf sehingga melupakan solat. Begitu juga ada yang berseronok dengan pelacur di negara jiran. Tidak kurang juga yang meminum arak, berjudi, mengamalkan sihir dan tangkal.

Pelbagai dosa dilakukan tanpa memikirkan implikasi di hari akhirat. Usahawan perlu menjauhi maksiat.Nikmat rezeki yang halal dan bersih tidak sepatutnya dibelanjakan ke jalan yang tidak baik dan merosakkan agama. Sayangi wang dan harta dan pastikan ia membawa ke arah kebaikan.

12.Tidak melakukan sabotaj.


Usahawan perlu mengelakkan perbuatan sabotaj kepada usahawan lain. Melakukan perbuatan sabotaj boleh merosakkan perniagaan orang lain dan menutup periuk nasi mereka. Usahawan yang mahu diredai Allah tidak akan melakukan perbuatan sabotaj dan meruntuhkan perniagaan orang lain. Hadapi segala masalah perniagaan dengan cara yang bersih dan beretika.

13.Membayar pinjaman.

Ramai usahawan mendapat peluang pinjaman dari pelbagai badan dan agensi kerajaan dan swasta.Usahawan perlu bijak memanfaatkan peluang pinjaman untuk membesarkan dan memajukan perniagaan dan berusaha melangsaikan pinjaman sebagaimana perjanjian. Masih ramai usahawan degil dan mementingkan diri sendiri. Ada yang sengaja melewatkan pembayaran pinjaman sedangkan mampu.Usahawan perlu membayar pinjaman demi memberi peluang usahawan lain merasa wang pinjaman membesarkan perniagaan. Demikianlah beberapa ciri usahawan yang menepati ajaran agama.

Usahawan islam perlu menjadi manusia yang benar-benar mendapat keredaan Tuhan dan rasul. Jangan jadi usahawan yang tamak,rakus,mementingkan diri,kaki maksiat dan dibenci manusia. Pastikan setiap langkah dalam perniagaan membawa kebaikan kepada diri dan keluarga. Pastikan perniagaan memberi banyak faedah kepada diri sendiri, keluarga, agama, bangsa dan negara.

Didiklah diri menjadi usahawan yang maju dalam perniagaan dan mendapat keredaan Tuhan dan nabi-Nya.Keredaan Tuhan adalah harta dan bekalan yang amat berharga di akhirat nanti. Apalah guna kereta mewah, rumah banglo, emas permata……..ianya akan ditinggalkan. Yang kekal dan berguna kepada diri ialah keredaan Tuhan.

sumber : http://travelogusahawanmuslim.blogspot.com

Thursday, August 9, 2012

Cara Buat Duit Pada Bulan Ramadhan


Bulan Ramadhan adalah bulan buat duit bagi sesetengah daripada kita. Ada yang sanggup mengambil cuti sebulan tanpa gaji untuk berniaga di pasar Ramadhan. Bagi setengah yang lain pula, terpaksa membuat pinjaman baru menjelang hari raya. Siapa pun kita, jangan lupa amalkan sedekah lebih sedikit dengan ikhlas pada bulan Ramadhan ini kerana itulah cara buat duit yang paling berkesan.

Membayar zakat dan mengeluarkan sedekah, walaupun kelihatan secara zahir kelihatan harta kita berkurangan tetapi pada hakikatnya harta itu telah kekal. Ia pasti menjadi 1 dari 3 pembantu utama selepas kita mati nanti.

Tidaklah sesuatu pemberian sedekah itu mengurangi banyaknya harta. Tidaklah Allah itu menambahkan seseorang akan sifat pengampunannya, melainkan ia akan bertambah pula kemuliaannya. Juga tidaklah seseorang itu merendahkan diri kerana mengharapkan keredhaan Allah, melainkan ia akan diangkat pula darjatnya oleh Allah ‘Azzawajalla.

(Direkodkan oleh Imam Muslim)

Mari kita lihat kepada siapa pula kita patut beri sedekah. Maka dalam ayat 177 surah al-Baqarah Allah swt menyebut:

Bukanlah perkara kebajikan itu hanya kamu menghadapkan muka ke pihak timur dan barat, tetapi kebajikan itu ialah berimannya seseorang kepada Allah dan hari akhirat dan segala malaikat dan segala Kitab dan sekalian Nabi dan mendermanya seseorang akan hartanya sedang dia menyayanginya, kepada kaum kerabat dan anak-anak yatim dan orang-orang miskin dan orang yang dalam musafir dan kepada orang-orang yang meminta dan untuk memerdekakan hamba-hamba abdi dan mengerjanya seseorang akan sembahyang serta mengeluarkan zakat dan perbuatan orang-orang yang menyempurnakan janjinya apabila mereka membuat perjanjian dan ketabahan orang-orang yang sabar dalam masa kesempitan dan dalam masa kesakitan dan juga dalam masa bertempur dalam perjuangan perang Sabil. (Orang-orang yang demikian sifatnya), mereka itulah orang-orang yang benar (beriman dan mengerjakan kebajikan) dan mereka itulah juga orang-orang yang bertakwa.

Dalam ayat ini Allah swt menetapkan keutamaan sedekah ini diberikan di kalangan ahli keluarga kita sendiri dan selepas itu barulah kita mencari anak yatim, orang miskin dan orang-orang lain yang memerlukan di luar lingkungan keluarga kita. Inilah sifat yang kita perlu ada dan bukannya lepas mati sahaja orang tua, adik-beradik bertegang urat bergaduh untuk merebut pusaka.

Kita diberikan masa 30 hari untuk membuat amalan sedekah dengan ganjaran yang lebih besar dan yakinlah dengan janji Allah berikut dengan ‘pelaburan sedekah’ yang kita buat nanti:

Bandingan (derma) orang-orang yang membelanjakan hartanya pada jalan Allah, ialah sama seperti sebiji benih yang tumbuh menerbitkan tujuh tangkai; tiap-tiap tangkai itu pula mengandungi seratus biji dan (ingatlah), Allah akan melipatgandakan pahala bagi sesiapa yang dikehendakiNya dan Allah Maha Luas (rahmat) kurniaNya, lagi Meliputi ilmu pengetahuanNya.

(al-Baqarah: 261)

Jika kita mahu membuat kiraan, RM 1 yang kita beri itu bakal berganda menjadi RM 7 dan setiap RM 7 itu pula bakal menghasilkan lagi seratus RM 1 yang bakal berganda menjadi RM 7 dan RM 7 yang baru berkembang ini juga akan menghasilkan lagi seratus RM 1 yang bakal menjadi RM 7 lagi dan lagi dan lagi dan hanya Allah swt sahaja yang tahu kiraan sebenarnya.

Amalkan sikap suka memberi duit kepada yang memerlukan dan rezeki akan datang dengan cara yang kita tidak sangka

Sumber: http://www.pakdi.net/