Showing posts with label Kisah Nabi/Sahabat. Show all posts
Showing posts with label Kisah Nabi/Sahabat. Show all posts

Thursday, September 26, 2013

Kisah Nabi Syits As dan Kisah Kematian Qabil sang Pendengki

Bismillaahirrahmaanirrahim. Setelah kasus terbunuhnya Habil oleh saudaranya Qabil, kemudian Siti Hawa melahirkan anak kembar lagi. Yang laki-laki diberi nama Syits (dalam bahasa Arab dan Ibrani) atau Syats (dalam bahasa Suryani). Sedangkan yang perempuan diberi nama 'Azura.
 
Pengarang kitab Qasas Al- Anbiya (Hal. 59) menyebutkan bahwa setelah menderita sakit selama 11 hari, nabi Adam As wafat. Ketika masih sakit, Nabi Adam berwasiat kepada Syits untuk menggantikan posisi kepemimpinannya. Nabi Adam juga mengingatkan Syits menjaga kerahasiaan pelimpahan mandat ini agar jangan sampai diketahui oleh Qabil, sang pendengki.
 
Menurut keterangan Ibnu Abbas, ketika Syits Dilahirkan, nabi Adam sudah berusia 930 tahun. Nabi Adam sengaja memilih Syits sebab anaknya yang satu ini memiliki kelebihan dari segi keilmuan, kecerdasan, ketakwaan dan kepatuhan dibandingkan dengan semua anaknya yang lain.
 
Sebagai Nabi, Syits As menerima perintah-perintah dari Allah SWT yang tertulis dalam 50 Sahifah. Demikian keterang dari hadits nabi SAW, yang diriwayatkan oleh Abu Dzar al-Ghifari sebagaimana dikutip dalam Tarikh Thabari (Jil. 1, hal 152). Patut kita perhatikan bahwa dalam memilih pemimpin, nabi Adam As menjadikan ketakwaan, kecerdasan dan ketaatan sebagai kriteria utama. Nabi Adam As mengebawahkan faktor usia, postur tubuh, kekuatan fisik dan aspek-aspek lainnya.
 
Nasihat Nabi Adam As kepada Nabi Syits As:
  1. Janganlah kamu merasa tenang dan aman hidup di dunia. Karena aku merasa tenang hidup di surga yang bersifat abadi, ternyata aku dikeluarkan oleh Allah daripadanya.
  2. Janganlah kamu bertindak menurut kemauan hawa istri-istri kamu. Karena aku bertindak menurut kesenangan hawa istriku, sehingga aku memakan pohon terlarang lalu aku menjadi menyesal.
  3. Setiap perbuatan yang kamu lakukan, renungkan terlebih dahulu akibat yang akan ditimbulkan. Seandainya aku merenungkan akibat suatu perkara, tentu aku tidak tertimpa musibah seperti ini.
  4. Ketika hati kamu merasakan kegamangan akan sesuatu, maka tinggalkanlah ia. Karena ketika aku hendak makan syajarah, hatiku merasa gamang, tetapi aku tidak menghiraukannya, sehingga aku benar-benar menemui penyesalan.
  5. Bermusyawarahlah mengenai suatu perkara, karena seandainya aku bermusyawarah dengan para malaikat, tentu aku tidak akan tertimpa musibah.
Dalam kisah lain dicetuskan: Wahab bin Munabbih mengatakan, ketika Adam As meninggal, Syits As berusia 400 tahun. Dia telah diberi tabut, tali, pedang dan kudanya yang bernama Maimun yang telah diturunkan kepadanya dari surga. Apabila kuda itu meringkik, semua binatang yang melata di bumi menyambutnya dengan tasbih. Syits As telah diwasiati untuk memerangi saudaranya, Qabil. Dia pergi memerangi Qabil dan akhirnya perang itu pun berkecamuk. Itulah perang pertama yang terjadi antara anak-anak Adam di muka bumi. Dalam peperangan itu, Syits As memperolehh kemenangan dan dia menawan Qabil.
 
Qabil sebagai tawanan berkata, ''wahai Syits, jagalah persaudaraan di antara kita''. Syits As berkata, ''mengapa engkau sendiri tidak menjaganya? Engkau telah membunuh saudaramu, Habil''. Kemudian Qabil ditawan oleh Syits As, kedua tangannya dibelenggu di atas pundaknya, dan dia ditahan di tempat yang panas sampai meninggal.
 
Anak-anak Qabil bermaksud menguburkannya. Tiba-tiba Iblis datang kepada mereka dalam rupa malaikat. Iblis berkata kepada mereka, ''Jangan dikubur di dalam bumi''. Iblis membawakan dua batu hablur yang telah dilubangi tengah-tengahnya. Dia menyuruh mereka memasukkan Qabil ke dalam ruang antara dua batu hablur itu. Memakaikannya dengan pakaian terindah dan meminyakinya dengan ramuan-ramuan tertentu sehingga dia tidak mengering. Lalu Iblis menyuruh mereka menyimpannya di sebuah rumah, diletakkan di atas kursi yang terbuat dari emas dan memerintahkan kepada setiap orang yang masuk kerumah itu untuk bersujud kepadanya sebanyak tiga kali. Iblis memerintahkan kepada mereka untuk merayakan upacara setiap tahun untuknya dan berkumpul di sekitarnya. Kemudian Iblis mewakilkan urusan ini kepada setan. Setan itulah yang kemudian berkomunikasi dengan mereka sehingga manusia terus-menerus sujud kepada Qabil.
 
Sementara Syits As, setelah dia menunaikan tugasnya memerangi Qabil, dia pulang ke negerinya dan menetap di sana sebagai juru pemutus yang adil di antara manusia. Wahab bin Munabbih mengatakan bahwa Hawa, Istri Adam As, meninggal di zaman anaknya, Syits As. Setelah meninggalnya Adam, Hawa tidak hidup lama, hanya setahun, dan meninggal di hari jum'at dalam waktu yang sama ketika dia diciptakan.
 
Diriwayatkan bahwa Hawa dikuburkan berdekatan dengan Adam As. Setelah kepergian mereka, Allah menurunkan 50 Sahifah kepada Syits As. Dialah orang pertama yang mengeluarkan kata-kata hikmah. Dialah yang pertama kali melakukan transaksi emas dan perak dan orang pertama yang memperkenalkan jual beli, membuat timbangan dan takaran. Dan dialah orang pertama yang menggali barang tambang dari dalam bumi.
 
Selanjutnya, Nabi Syits As mempunyai seorang anak laki-laki yang diberi nama Anusy. Di dalam kening Syits As terdapat cahaya Muhammad SAW yang berpindah kepadanya dari Adam As. Setelah Anusy lahir, cahaya tersebut berpindah ke keningnya. Oleh kerana itu, Syits As tahu bahwa ajalnya sudah dekat. Dia melihat rambut-rambut sudah memutih. Maka, pada tahun itu Syits As meninggal dunia dalam umur 900 tahun.
 
Wahab bin Munabbih mengatakan, setelah Syits As meninggal, dia digantikan oleh anaknya, Anusy. Sebelum meninggal, Syits As menyerahkan tabut, tali, suhuf, dan cincin kepada Anusy. Anusy berperilaku dengan baik dan memutuskan dengan benar. Kemudian dia menikah dengan seorang wanita yang kemudian mengandung seorang anak. Setelah anak itu lahir, cahaya Muhammad SAW yang ada pada Anusy pindah ke wajahnya. Anak tersebut diberi nama Qainan. Anusy terus melakukan kebiasaannya sampai dia menemui ajalnya. Sebelum meninggal, dia serahkan tabut dan shuhuf kepada anaknya, Qainan. Dia memberi wasiat dan mengangkatnya sebagai pengganti setelahnya.
 
Setelah Qainan diangkat menjadi pemimpin setelah bapaknya, dia muncul di antara manusia dengan adil. Menjalankan perilaku yang baik. Kemudian menikah dengan seorang wanita yang bernama Uthnuk. Dari pernikahan tersebut, Uthnuk mengandung seorang anak laki-laki. Setelah lahir, anak tersebut diberi nama Mahlaila dan cahaya Muhammad SAW pindah ke keningnya. Selanjutnya, Qainan sakit, yang membawanya pada kematian. Maka, dia serahkan tabut dan suhuf kepada anaknya dan mengangkatnya sebagai penggantinya. Berikut Mahlaila meninggal dan cahaya beralih ke anaknya yang bernama Yarid. Yarid pun meninggal dan cahaya itu berpindah ke anaknya yang bernama Ukhnukh, yang kemudian dikenal dengan Nabi Idris As.
 
Sumber: istiqommah.com;
               http://religi.pun.bz/

Tuesday, July 9, 2013

Kisah Cinta Zulaikha dan Nabi Yusuf

Akibat konsprirasi saudara-saudara nabi Yusuf a.s , di negeri Kanaan , baginda terjual di negeri Mesir.

Maka Allah berfirman :

Maksudnya
Dan (setelah Yusuf dijualkan di negeri Mesir) berkatalah orang yang membeli Yusuf kepada isterinya: Berilah dia layanan yang sebaik-baiknya; semoga ia berguna kepada kita, atau kita jadikan anak. Dan demikianlah caranya kami berikan kedudukan Yusuf di bumi (Mesir untuk dihormati dan disayangi), dan untuk Kami mengajarnya sebahagian dari ilmu menta’bir mimpi. Dan Allah Maha Kuasa melakukan segala perkara yang telah ditetapkan-Nya, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Yusuf 21)
Ahli-ahli tafsir sepakat mengatakan orang yang membeli Yusuf a.s. adalah al-Aziz seorang pegawai tinggi atau Wazir kerajaan Mesir dan isterinya adalah Zulaikha , yang diharap menjadi ibu angkat kepada Yusuf a.s.
Siapakah Zulaikha?
Maulana Abdullah Yusuf Ali didalam Terjemahan al Quran memetik tulisan karya sastra Zulaikha dan Yusuf oleh Jami r.h ( 817 H – 898 H ):
Zulaikha adalah seorang puteri raja sebuah kerajaan di barat (Maghrib) negeri Mesir. Beliau seorang puteri yang cantik menarik. Beliau bermimpi bertemu seorang pemuda yang menarik rupa parasnya dengan peribadi yang amanah dan mulia. Zulaikha pun jatuh hati padanya. Kemudian beliau bermimpi lagi bertemu dengannya tetapi tidak tahu namanya. Kali berikutnya beliau bermimpi lagi , lelaki tersebut memperkenalkannya sebagai Wazir kerajaan Mesir.
Kecintaan dan kasih sayang Zulaikha kepada pemuda tersebut terus berputik menjadi rindu dan rawan sehingga beliau menolak semua pinangan putera raja yang lain. Setelah bapanya mengetahui isihati puterinya, bapanya pun mengatur risikan ke negeri Mesir sehingga mengasilkan majlis pernikahan dengan Wazir negri Mesir.
Memandang Wazir tersebut atau al Aziz bagi kali pertama, hancur luluh dan kecewalah hati Zulaikha. Hatinya hampa dan amat terkejut, bukan wajah tersebut yang beliau temui di dalam mimpi dahulu. Bagaimanapun ada suara ghaib berbisik padanya : “ Benar , ini bukan pujaan hati kamu. Tetapi hasrat kamu kepada kekasih kamu yang sebenarnya akan tercapai melaluinya. Janganlah kamu takut kepadanya . Mutiara kehormatan engkau sebagai perawan selamat bersama-sama dengannya”.
Perlu diingat sejarah Mesir menyebut , Wazir diraja Mesir tersebut adalah seorang kasi, yang dikehendaki berkhidmat sepenuh masa kepada baginda raja. Oleh yang demikian Zulaikha terus bertekat untuk terus taat kepada suaminya kerana ia percaya ia selamat bersamnya.
Demikian masa berlalu, sehingga suatu hari al-Aziz membawa pulang Yusuf a.s. yang dibelinya di pasar. Sekali lagi Zulaikha terkejut besar, itulah Yusuf a.s yang dikenalinya didalam mimpi . Tampan, segak, menarik dan menawan.
Betullah sabda nabi yang diriwayatkan oleh Hammad dari Tsabit bin Anas bahawa Rasullah bersabda maksudnya: Yusuf dan ibunya telah diberi oleh Allah separuh kecantikan dunia.
Kisah Zulaikha dan Yusuf dirakamkan di dalam Al Quran bermula surah Yusuf ayat 21 sehinggalah Yusuf a.s di penjarakan pada ayat 36 surah yang sama, kerana fitnah kononnya Yusuf a.s mengoda Zulaikha , isteri al-Aziz. Bagaimanapun pada ayat 51 surah yang sama Allah berfirman, maksudnya :
Isteri Al Aziz pun berkata: Sekarang ternyatalah kebenaran, akulah yang memujuk Yusuf berkehendakkan dirinya; dan sesungguhnya adalah ia dari orang yang benar. ( Yusuf 51 )
Selepas ayat tersebut Al Quran tidak menceritakan kesudahan hubungan Zulaikh dengan Yusuf a.s.
Bagaimanapun Ibn Katsir didalam Tafsir Surah Yusuf memetik :
Muhammad bin Ishak berkata bahawa kedudukan yang diberikan kepada Yusuf a.s oleh raja Mesir adalah kedudukan yang dahulunya dimiliki oleh suami Zulaikha yang telah dipecat. Juga disebut-sebut bahwa Yusuf telah beristrikan Zu­laikha sesudah suaminya meninggal dunia, dan diceritakan bah­wa pada suatu ketika berkatalah Yusuf kepada Zulaikha setelah ia menjadi isterinya,
“Tidakkah keadaan dan hubungan kita se­karang ini lebih baik dari apa yang pernah engkau inginkan?” 
Zulaikha menjawab,
“Janganlah engkau menyalahkan aku, hai kekasihku, aku sebagai wanita yang cantik, muda belia bersuamikan seorang pemuda yang berketerampilan dingin, menemui­mu sebagai pemuda yang tampan, gagah perkasa bertubuh indah, apakah salah bila aku jatuh cinta kepadamu dan lupa akan ke­dudukanku sebagai wanita yang bersuami?” 
Dikisahkan bahwa Yusuf waktu kawin dengan Zulaikha, ia menemuinya masih gadis (perawan) dan dari perkawinan itu memperoleh dua orang putra: Ifraitsim bin Yusuf dan Misya bin Yusuf.
Rujukan :
  1. Maulana Abdullah Yusuf Ali – Terjemahan al Quran Karim
  2. Tafsir Ibnu Katsier – surah Yusuf

Monday, January 21, 2013

Nabi Syith A.S

Set bahasa Arab: Shith atau Shiyth yang bermaksud "ditempatkan; ditunjuk" dalam kitab Kejadian dari Kitab Suci Ibrani dan Alkitab, adalah salah satu anak dari Adam dan Hawa, dan merupakan adik dari Qabil dan Habil. Ia dilahirkan setelah Habil dibunuh oleh Qabil. Nama Set disebut sepuluh kali dalam Alkitab, tujuh kalinya di kitab Kejadian, sekali di kitab Bilangan, I Tawarikh, dan Lukas.

Sebagai pedoman dari kisah ini adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Thabrani dan Ibnu Katsir, Al Qur'an, Ubay bin Ka'ab. Setelah terbunuhnya putra Adam as yang bernama Habil, bukan main rasa sedih yang dialami oleh Nabi Adam as. Tangisan tersebut terdengar bertahun-tahun mengiringi kepergiannya.

Pada akhirnya, Allah SWT memberikan pengganti, seorang anak yang bernama Syits. Syits artinya adalah pemberian Allah SWT untuk menggantikan Habil. Setelah Syits dewasa, Nabi Adam pun memberikan kepercayaan kepada Syits serta memberikan semua ilmunya kepadanya. Bahkan ketika akan wafatpun Nabi Adam as memberikan wasiat kepada Syits untuk menggantikan dalam memimpin anak keturunannya untuk beribadah kepada Allah SWT.

Nabi Syith diangkat sebagai nabi selepas nabi adam.merupakan anak adam yang tiada kembarnya iaitu hawa melahirkan 24 anak kembar masing-masing lelaki dan perempuan. Ada yang mengatakan 20 anak kembar dan sebagainya.Hawa setiap kali hamil semuanya kembar dua..dan hawa 20 kali melahirkan anak…maka semuanya jumlah 40 orang, manakala anak Nabi Adam kesemuanya ada 41 orang..ini termasuk Nabi Sith a.s.

Nabi Syith adalah Nabi yang soleh dan berpengetahuan yang tinggi, kerana ia dianugerahi otak yang cerdas, ia banyak belajar ilmu pengetahuan dari nabi Adam. Dari nabi Syith Ilmu pengetahuan berkembang luas. Nabi Sith menetapkan kaedah2 hukum. Sejak terjadinya perkara pergaduhan atau jenayah pertama anak Adam Habil dan Qabil di muka bumi, maka sejak zaman nabi Syith sudah ada ketetapan-ketetapan hukum jenayah . Nabi Syith telah membuat timbangan sehingga setiap orang dapat membagi makanan secara adil. Selain itu nabi Syith juga telah mengembangkan ilmu hitung, ilmu Falaq (perbintangan) sehingga pada masa nabi Syith ilmu pengetahuan alam sudah berkembang dengan pesat.

Nabi Syits (sekitar 3630-2718 SM) meninggal pada usia 1042 tahun. Nabi Syith menikah dengan Azura (Hazurah), kemudian mengandung seorang anak yang bernama Enos pada usia 105 tahun. Ia juga termasuk guru Nabi Idris yang pertama kali mengajarkan baca dan tulis, ilmu falak, menjinakkan kuda dan lain-lain

Monday, October 1, 2012

Ketika Komander Khalid Dipecat Amirul Mukminin


Marilah kita menelaah semula peristiwa pemecatan Khalid ibnu Al Walid R.A dari jabatannya sebagai panglima tertinggi angkatan tentera Islam yang dilakukan oleh Khalifah Umar Al Khattab R.A. Pemecatan tersebut adalah satu peristiwa sejarah yang sangat mengkagumkan, peristiwa yang menayangkan keunggulan peribadi pejuang fi sabili' llah. Dalam perhitungan rakyat jelata, tentu sahaja pemecatan tersebut merupakan tindakan yang tidak bijaksana.

Bagi mereka yang tidak berada di lapangan pentadbiran, mereka melihat Khalid dengan sifat kepahlawanannya yang luar biasa itu merupakan orang yang paling tepat untuk jabatan panglima agung dan tidak ada sebab yang jelas mengapa ia harus dipecat. Tetapi Umar dengan ketajaman pandangannya dapat melihat apa yang orang lain tidak mampu melihatnya. Lalu beliau mengambil tindakan pemecatan tersebut dengan bertawakkal kepada Allah dan menuluskan niat untuk mencari keredhaanNya semata.

Siapa yang tidak kenal Sahabat Rasulullah S.A.W, Saidina Umar al Khattab R.A yang memikul amanah sebagai seorang khalifah selepas Saidina Abu Bakar as Siddiq R.A? Dan siapa pula yang tidak mengenal pakar strategis di medan perang, Khalid bin Al Walid? Kedua-duanya adalah tokoh pejuang di belakanag Baginda Nabi S.A.W.

Apabila arahan pemecatan dikeluarkan oleh Khalifah Umar Al Khattab, Khalid R.A yang digelar pedang Allah menerima berita pemecatan tersebut dengan hati yang lapang. Dengan penuh rela diserahkan jabatannya kepada pengganti yang baru ditauliahkan oleh Umar iaitu Abu Ubaidah ibnu Al Jarrah. Khalid R.A sendiri barangkali tidak tahu dengan pasti mengapa pemecatan ini dilakukan, tetapi yang jelas ialah Khalid tidak meragui keikhlasan Umar Al Khattab dan menghormati kewibawaan pimpinannya.

Khalid meyakini bahawa pemecatan tersebut adalah untuk kebaikan seluruh umat, bukan kerana motif jahat, bukan motif menjatuhkan Islam, bukan motif kroni dan sebagainya, tetapi adalah bermotifkan keyakinan kepada perjuangan Nabi S.A.W. Kerana itu, Khalid dengan spontan patuh kepada perintah Umar dan tidak terlintas langsung sebarang tindakan penentangan, cakap-cakap mulut yang berterusan dan kerana itu ia tidak menghebohkan kepada orang ramai, khuatir ia akan menimbulkan reaksi yang kurang menyenangkan.

Nabi S.A.W pernah bersabda memuji Abu Ubaidah bin Al Jarrah, "Setiap umat memiliki orang kepercayaan. Dan orang kepercayaan umat ini ialah Abu Ubaidah bin Al Jarrah". Namun, pujian melangit Baginda S.A.W kepada Abdullah bi Al Jarrah tidak membuatkan Khalid berkecil hati. Jika kita merenung akal manusia yang cetek ini pasti terdetik dalam fikiran kita, "Apa lebihnya Abdullah bin Jarrah? Apa kurangnya Khalid bin Al Walid?". Namun, bukan soal kehebatan personal kedua-dua tokoh ini, tetapi sebaliknya adalah soal disiplin dan akhlak yang disemat sebaik-baiknya oleh kedua-dua tokoh para pejuang agama Allah ini.

Setelah diserahkan jabatannya kepada Abu Ubaidah, Khalid terus berkhidmat dengan setia di bawah pimpinan yang baru dan semangat perjuangannya itu kekal utuh sama seperti beliau menjadi pemimpin tentera. Komen spontan yang terbit dari tindakan Khalid menampakkan ketulusan hatinya, "Aku berjuang kerana Allah, bukan kerana Umar". Inilah jiwa besar Khalid, bukannya menentang pimpinan setelah beliau dipecat, bukannya terbit perasaan tidak puas hati, bukannya membantah keputusan Umar.

Di pihak Abu Ubaidah pula, tidak pula beliau menampakkan kerakusannya terhadap jawatan, beliau akur agar perlantikannya dirahsiakan buat beberapa ketika. Sementara itu, pihak tentera dan umat Islam pula telah menerima perubahan tersebut dengan tenang, tidak ada yang membantah, yakin bahawa tindakan Umar adalah tindakan yang didasari tawakkal dan petunjuk Allah. Bukannya tindakan semberono, tindakan pengekor hawa nafsu dan peribadi, tindakan tanpa syura.

Seluruh tentera Islam merelakan pemecatan Khalid, sebagaimana Khalid merelakan dirinya dipecat dan mereka juga menerima perlantikan Abu Ubaidah sebagai Khalid menerimanya dengan ikhlas. Kewibawaan dan reputasi Abu Ubaidah tidak pernah dipertikaikan dan Khalid melihatnya sebagai alternatif yang berhak menggantikannya.

Demikianlah peristiwa besar, jiwa tarbiyah Khalid yang terus abadi dalam rakaman sejarah, menjadi lambang keunggulan umat yang ikhlas mengabdi dan berbakti hanya kepada Allah, hormat kepada pimpinan dan setia kepada pimpinan perjuangannya. Sesungguhnya bertuahlah umat yang sedia belajar dari sejarah ini, baik yang berkedudukan sebagai Umar, Khalid dan Abu Ubaidah radhiAllahu anhum ajma'ien. Betapa tingginya taqwa Para Sahabat, inilah hati-hati yang berada dalam satu saff yang dipuji oleh Allah Taala di dalam Al Quran :


إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُم بُنْيَانٌ مَّرْصُوصٌ

"sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang di jalanNya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kukuh" - Surah As Saff:4

- Majalah TARBAWI Isu No:2
Sumber: http://i-mujaddid.blogspot.com/

Kisah Salman al-Farisi mencari kebenaran


Salman al-Farisi pada awal hidupnya adalah seorang bangsawan dari Parsi yang menganut agama Majusi. Namun dia tidak merasa selesa dengan agamanya. Pergolakan batin itulah yang mendorongnya untuk mencari agama yang dapat menenteramkan hatinya.

Kisah Salman diceritakan terus kepada seorang sahabat dan keluarga terdekat Nabi Muhammad bernama Abdullah bin Abbas:

Salman dilahirkan dengan nama Parsinya, Rouzbeh, di kota Kazerun, Fars, Iran. Ayahnya adalah seorang Dihqan (ketua) desa. Dia adalah orang terkaya di sana dan memiliki rumah terbesar.

Ayahnya menyayangi dia, melebihi siapa pun. Seiring waktu berlalu, cintanya kepada Salman semakin kuat dan membuatnya semakin takut kehilangan Salman. Ayahnya pun menjaga dia di rumah, seperti penjara.

Ayah Salman memiliki sebuah kebun yang luas, yang mempunyai jumlah hasil yang banyak. Suatu ketika ayahnya meminta dia mengerjakan beberapa tugas di tanahnya. Tugas dari ayahnya itulah yang menjadi awal pencarian kebenaran.

“Ayahku memiliki kawasan tanah subur yang luas. Suatu hari, ketika dia sibuk dengan pekerjaannya, dia menyuruhku untuk pergi ke tanah itu dan memenuhi beberapa tugas yang dia inginkan. Dalam perjalanan ke tanah tersebut, saya melalui gereja Nasrani. Saya mendengarkan suara orang-orang bersembahyang di dalamnya. Saya tidak mengetahui bagaimana orang-orang di luar hidup, kerana ayahku membataskan pergerakanku di dalam rumahnya! Maka ketika saya melaluii orang-orang itu (di gereja) dan mendengarkan suara mereka, saya masuk ke dalam untuk melihat apa yang mereka lakukan.”

“Ketika saya melihat mereka, saya menyukai sembahyang mereka dan menjadi tertarik terhadapnya (yakni agama). Saya berkata (kepada diriku), ‘Sungguh, agama ini lebih baik daripada agama kami’”.

Salman mempunyai pemikiran yang terbuka, bebas dari taklid buta. “Saya tidak meninggalkan mereka sehingga matahari terbenam. Saya tidak pergi ke tanah ayahku.”

Dan ketika pulang, ayahnya bertanya. Salman pun menceritakan bertemu dengan orang-orang Nasrani dan mengaku tertarik.

Ayahnya terkejut dan berkata: “Anakku, tidak ada kebaikan dalam agama itu. Agamamu dan agama nenek moyangmu lebih baik.”

“Tidak, agama itu lebih baik dari milik kita,” tegas Salman.

Ayah Salman pun bersedih dan takut Salman akan meninggalkan agamanya. Jadi dia mengunci Salman di rumah dan merantai kakinya.

Salman tidak putus asa dan mengirimkan satu pesanan kepada penganut Nasrani, meminta mereka memberi khabar jika ada kafilah pedagang yang pergi ke Syria. Setelah informasi diperoleh, Salman pun membuka rantai dan lari untuk bergabung dengan rombongan kafilah.

Ketika tiba di Syria, dia meminta diperkenalkan dengan seorang pendeta di gereja. Dia berkata: “Saya ingin menjadi seorang Nasrani dan memberikan diri saya untuk melayani, belajar dari anda, dan sembahyang dengan anda.”

Pendeta bersetuju dan Salman pun masuk ke dalam gereja. Namun tidak lama kemudian, Salman menemui bukti bahawa pendeta adalah seorang yang tidak amanah dan rasuah. Dia memerintahkan para jemaah untuk bersedekah, namun hasil sedekah itu ditimbunnya untuk memperkaya diri sendiri.

Ketika pendeta itu meninggal dunia dan umat Nasrani berkumpul untuk menguburkannya, Salman mengatakan bahawa pendeta itu perasuah dan menunjukkan bukti-bukti timbunan emas dan perak pada tujuh pasu yang dikumpulkan dari sedekah para jemaah.

Setelah pendeta itu wafat, Salman pun pergi untuk mencari orang soleh lainnya, di Mosul, Nisibis, dan tempat lainnya.

Pendeta yang terakhir berkata kepadanya bahawa telah datang seorang nabi di tanah Arab, yang memiliki kejujuran, yang tidak memakan sedekah untuk dirinya sendiri.

Salman pun pergi ke Arab mengikuti para pedagang dari Bani Kalb, dengan memberikan wang yang dimilikinya. Para pedagang itu setuju untuk membawa Salman.

Namun ketika mereka tiba di Wadi al-Qura (tempat antara Syria dan Madinah), para pedagang itu mengingkari janji dan menjadikan Salman seorang seorang hamba, lalu menjual dia kepada seorang Yahudi.

Ringkas cerita, akhirnya Salman dapat sampai ke Yatsrib (Madinah) dan bertemu dengan rombongan yang baru berhijrah dari Makkah. Salman dibebaskan dengan wang tebusan yang dikumpulkan oleh Rasulullah SAW dan seterusnya mendapat bimbingan terus dari beliau.

Betapa gembira hatinya, kenyataan yang diterimanya jauh melebihi apa yang dicita-citakannya, dari sekadar ingin bertemu dan berguru menjadi anugerah pengakuan sebagai muslimin di tengah-tengah kaum Muhajirin dan kaum Anshar yang disatukan sebagai saudara.

Kisah kepahlawanan Salman yang terkenal adalah kerana ideanya membuat parit dalam usaha melindungi kota Madinah dalam Perang Khandaq.

Ketika itu Madinah akan diserang pasukan Quraisy yang mendapat dukungan dari suku-suku Arab lainnya yang berjumlah 10.000 orang. Pemimpin pasukan itu adalah Abu Sufyan. Ancaman juga datang dari dalam Madinah, di mana penganut Yahudi dari Bani Quradhzah akan mengacau dari dalam kota.

Rasulullah SAW pun meminta pandangan dari sahabat-sahabatnya bagaimana strategi menghadapi mereka. Setelah bermusyawarah akhirnya saranan Salman Al Farisi atau yang biasa dipanggil Abu Abdillah diterima.

Strategi Salman memang belum pernah diketahui oleh bangsa Arab pada waktu itu. Namun atas ketajaman pertimbangan Rasulullah SAW, saranan tersebut diterima.

Atas saranan Salman itulah perang dengan jumlah pasukan yang tak seimbang dimenangi kaum Muslimin.

Setelah meninggalnya Nabi Muhammad, Salman dikirim untuk menjadi gabenor di daerah kelahirannya, hingga dia wafat.

Sumber : tulahan.blogspot.com

Saat kematian Saidina Umar Al-Khattab


Pada 23 Zulhijjah tahun 23 Hijrah Umar al Khattab dibunuh oleh Abu Lu’lu’ dalam masjid ketika menjadi imam sembahyang subuh. Setelah menikamnya sebanyak 6 kali maka Abu Lu’lu’ cuba melarikan diri namun dihadang oleh ahli jemaah yang berada dibelakang Umar al Khattab. Abu Lu’lu’ yang bersenjatakan pisau bermata dua sempat menikam 13 orang sebelum membunuh diri.

Dalam keadaan luka parah dan menahan kesakitan Umar al Khattab menyuruh Abdul Rahman Auf menjadi imam sembahyang. Selesai sembahyang baru mereka mendapatkan Umar al Khattab yang sedang terbaring berlumuran darah.

“Siapa yang menikamku?” tanya Umar al Khattab.

“Abu Lu’lu’ hamba Mughirah Syu’bah,” jawab Abdullah.

“Syukur kepada Allah kerana aku tidak dibunuh orang Islam,” ujar Umar al Khattab.

Datang seorang tabib cuba memberikan rawatan. Kemudian diberinya minum tetapi minuman itu keluar dari perutnya yang luka.

“Wahai Amirul Mukminin, sudah tiba masanya,” kata tabib itu.

Orang ramai menangis tetapi ditegah oleh Umar dengan berkata.
“Jangan kamu menangis. Nabi bersabda orang yang mati terazab dengan tangisan keluarganya.”

Kemudian Umar al Khattab memanggil anaknya Abdullah supaya menemui Aisyah isteri Rasulullah saw mohon kebenaran disemadikan bersebelahan dengan kubur baginda. Aisyah membenarkan dengan berkata . “Sebelum ini aku telah menyimpan tempat itu untuk aku tetapi hari ini aku menyerahkannya kepada Umar.”

“Wahai Amirul Mukminin, apakah tuan akan melantik Abdullah bin Umar sebagai pengganti?” tanya Al Mughirah.

“Demi Allah, aku haramkan keluarga dari jawatan ini…” jawab Umar al Khattab.

Kemudian Umar al Khattab menamakan 6 orang sebagai calun khalifah mereka ialah Uthman Affan, Ali bin Abi Talib, Talhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Abdul Rahman bin Auf dan Sa’ad bin Abi Waqas. Mereka akan dipilih oleh ahli majlis syura.

Kemudian Umar al Khattab memberi wasiat kepada anaknya Abdullah bahawa beliau mempunyai hutang sebanyak 8 ribu dirham. “Jual semua hartaku untuk membayarnya. Jika tidak cukup kamu yang membayarkannya.”

Ali bin Abi Talib memandi dan mengkafankan Umar al Khattab. Kemudian beliau berkata. “Demi Allah, orang yang diselubungi kain kafan ini begitu cinta untuk menemui tuhannya.”

Jenazah Umar al Khattab disembahyangkan di masjid dengan Suhaib menjadi imamnya. Kemudian disemadikan bersebelahan dengan kubur Rasulullah saw dan Abu Bakar as Siddiq.

Orang yang turun ke liang lahad adalah Uthman Affan, Sa’id bin Zaid, Suhaib bin Sinan dan Abdullah bin Umar.

Kubur tiga sahabat sejati itu sentiasa dikunjungi orang ramai hingga ke hari ini. Setelah menziarahi dan berdoa di makam Nabi Muhamad saw dan Abu Bakar teruslah berdoa untuk Umar al Khattab pula.

“Salam sejahtera ke atasmu wahai yang menzahirkan Islam secara terang-terangan. Salam sejahtera ke atasmu wahai yang telah diberi gelaran al Faruq yang memisahkan antara yang benar dan salah, salam sejahtera ke atasmu yang sentiasa bercakap benar serta memelihara anak yatim dan menghubungkan kasih sayang dan engkaulah yang menjadikan agama Islam kuat dan gagah. Maka terima lah salam sejahtera serta rahmat dari Allah ke atasmu.”

sumber : facebook Abdul Latip ( Penulis buku) & http://lafazsakinah.blogspot.com/

Khalid al-Walid


DIKATAKAN seramai 3,350 anggota tentera musuh mati ditangan tentera Islam pada Perang Muktah berbanding hanya 12 orang di pihak Islam. Tidakkah ini bermakna kemenangan luar biasa pihak Islam? Apatah lagi bila mengetahui bilangan tentera Islam hanya seramai 3,000 berbanding di pihak musuh, 200,000 orang.

Walau bagaimanapun kedengaran juga daripada segelintir pihak yang mendakwa kemenangan sebenarnya tetap di pihak tentera Rom Byzantine, bukan di pihak Islam.

Alasannya, pihak Islam tidak berjaya menawan Muktah (Wilayah Karak, Jordan) yang ketika itu merupakan wilayah di bawah jajahan Rom.

Apa pun persoalannya, terpulanglah bagaimana cara ia difahami dan ditafsirkan mengikut kepentingan masing-masing.

Malah, jika dikatakan tentera Islam sebenarnya kalah dalam peperangan ini, maka ia bukan menjadi satu kesalahan atau terkutuk di sisi Allah. Ini kerana menang atau kalah tentu banyak hikmah dan pengajaran yang patut dijadikan peringatan dan sempadan.

Berbalik kepada Pedang Allah, Khalid bin Al-Walid, beliau menunjukkan dua peribadi yang cukup berbeza ketika mengepalai tentera di Perang Uhud dan Perang Muktah.

Pada Perang Uhud, Khalid menentang Islam, namun beliaulah yang paling kuat mempertahankan Islam semasa Perang Muktah.

Marilah kita mengenali Khalid Al Walid kerana dengan mengenali beliau maka ia menambahkan lagi koleksi tokoh-tokoh Islam yang wajar kita kagumi.

Selain menjadi salah seorang hero dalam Islam, beliau dikatakan salah seorang antara panglima tentera yang paling hebat dalam sejarah peperangan dunia.

Ia setanding dengan Ghengis Khan kerana kedua-duanya tidak pernah kalah dalam mana-mana peperangan yang mereka sertai.

Tetapi tahukah anda kehebatan beliau ini sama sekali tidak membuatkan Khalid berasa bangga tetapi lebih kepada mengeluh sendiri.

Sebagaimana umat dan pahlawan-pahlawan Islam yang lain, pada jiwa Khalid juga kental dengan cita-cita untuk mati syahid di medan tempur. Namun hajatnya tidak pernah tertunai atau kesampaian.

Beliau sentiasa membawakan tentera Islam kepada kemenangan dengan tiada musuh yang berjaya dan mampu menumbangkan Khalid.

Namun Khalid akhirnya terpaksa akur apabila ada sahabat yang memujuknya: "Engkau tidak boleh mati syahid wahai Khalid! Ini kerana engkau telah dilantik sebagai Pedang Allah oleh Rasulullah dan pedang Allah tidak boleh patah (gugur syahid) di medan perang."

Tiada perang yang tidak dimenanginya. Walaupun mencari syahid tetapi yang pasti Khalid mempunyai kedudukan yang sangat tinggi di akhirat.

Ini kerana beliau sendiri mempunyai luka-luka dan parut peperangan di seluruh badannya yang boleh dijadikan bukti.

Kehebatan Khalid

Ini sebagaimana kata-kata Khalid sebelum beliau meninggal dunia: "Aku telah berperang lebih daripada 100 kali dan tiada di badanku ini walaupun seinci kecuali padanya penuh dengan pukulan pedang, tusukan panah dan tikaman tombak. Dan inilah aku, yang akhirnya mati di atas katilku sendiri."

Kata-katanya itu tertulis di bahagian luar kompleks makamnya di Syria yang tidak putus-putus dikunjungi umat Islam.

Melihatkan kepada rupa bentuk pedang milik Khalid yang masih tersimpan elok sehingga hari ini, serta sentiasa menarik perhatian orang ramai. Dari situ kita sudah boleh mengagumi akan kehebatan Khalid.

Apatah lagi melihatkan rupa paras Khalid itu sendiri, pasti lebih mengagumkan.

Dikatakan juga Khalid dan Saidina Umar Al Khattab adalah dua pahlawan Islam yang tiada bezanya yang kebetulan kedua-dua mereka adalah sepupu.

Dilahirkan dalam keluarga bangsawan terkemuka, suku Bani Makhzum dalam golongan Arab Quraisy dengan bapanya Al-Walid ibnu Al-Mughira merupakan ketua suku tersebut.

Bani Makhzum lazimnya bertanggungjawab dalam soal peperangan bagi mempertahankan golongan kafir Quraisy Mekah.

Lalu sejak awal kelahiran Khalid, beliau telah dibentuk untuk menjadi pahlawan sejati apabila ketika usia bayi beliau telah dihantar untuk tinggal bersama puak-puak Arab Badwi di padang pasir untuk diasuh hidup secara lasak dan tangkas.

Sehinggalah usianya memasuki enam tahun beliau kembali ke pangkuan keluarga di Kota Mekah menjadi seorang anak yang membesar dengan begitu gagah dan berani.

Lebih-lebih lagi, mempunyai Umar sebagai sepupu, perwatakan fizikal dan peribadi mereka sememangnya sama, termasuk wajah.

Kedua-duanya sama tinggi dan mempunyai bahu yang lebar, dada yang bidang dengan janggut dan jambang tebal di muka.

Khalid adalah jaguh gusti yang terkemuka di Kota Mekah dan pernah bergusti dengan Umar sehingga patah tangan Umar. Sebagai meneruskan tradisi kekeluargaan beliau juga sangat hebat mengendalikan kuda, malah dikatakan penunggang kuda terbaik di Semenanjung Tanah Arab ketika itu.

Sejak kecil juga Khalid sudah mahir bermain pelbagai alat senjata terutamanya pedang, tombak dan anak panah.

Susunan SITI AINIZA KAMSARI
sumber: http://www.utusan.com.my/