Tuesday, March 29, 2011

Orang Yang Berjiwa Besar


Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Harta tidak akan berkurang gara-gara sedekah. Tidaklah seorang hamba memberikan maaf -terhadap kesalahan orang lain- melainkan Allah pasti akan menambahkan kemuliaan pada dirinya. Dan tidaklah seorang pun yang bersikap rendah hati (tawadhu’) karena Allah (ikhlas) melainkan pasti akan diangkat derajatnya oleh Allah.” (HR. Muslim, lihat Syarh Muslim [8/194])

Hadits yang mulia ini memberikan berbagai pelajaran penting bagi kita, di antaranya:
  1. Hadits ini menganjurkan kita untuk bersikap ihsan/suka berbuat baik kepada orang lain, entah dengan harta, dengan memaafkan kesalahan mereka, ataupun dengan bersikap tawadhu’ kepada mereka (lihat Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 110)
  2. Anjuran untuk banyak bersedekah. Karena dengan sedekah itu akan membuat hartanya berbarokah dan terhindar dari bahaya. Terlebih lagi dengan bersedekah akan didapatkan balasan pahala yang berlipat ganda (lihat Syarh Muslim [8/194]). Selain itu, sedekah juga menjadi sebab terbukanya pintu-pintu rezeki (lihat Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 109)
  3. Anjuran untuk menjauhi sifat bakhil/kikir.
  4. Kebakhilan tidak akan menghasilkan keberuntungan
  5. Hadits ini menunjukkan keutamaan bersedekah dengan harta
  6. Sedekah adalah ibadah
  7. Allah mencintai orang yang suka bersedekah -dengan ikhlas tentunya-
  8. Terkadang manusia menyangka bahwa sesuatu bermanfaat baginya, namun apabila dicermati dari sudut pandang syari’at maka hal itu justru tidak bermanfaat. Demikian pula sebaliknya. Oleh sebab itu alangkah tidak bijak orang yang menjadikan hawa nafsu, perasaan, ataupun akal pikirannya yang terbatas sebagai standar baik tidaknya sesuatu. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Manusia itu, sebagaimana telah dijelaskan sifatnya oleh Yang menciptakannya. Pada dasarnya ia suka berlaku zalim dan bersifat bodoh. Oleh sebab itu, tidak sepantasnya dia menjadikan kecenderungan dirinya, rasa suka, tidak suka, ataupun kebenciannya terhadap sesuatu sebagai standar untuk menilai perkara yang berbahaya atau bermanfaat baginya. Akan tetapi sesungguhnya standar yang benar adalah apa yang Allah pilihkan baginya, yang hal itu tercermin dalam perintah dan larangan-Nya…” (al-Fawa’id, hal. 89)
  9. Hadits ini menunjukkan disyari’atkannya menepis keragu-raguan dan menyingkap kesalahpahaman yang bercokol di dalam hati manusia
  10. Memberikan targhib/motivasi merupakan salah satu metode pengajaran yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
  11. Hadits ini juga menunjukkan pentingnya memotivasi orang lain untuk beramal salih
  12. Anjuran untuk memberikan maaf kepada orang lain yang bersalah kepada kita -secara pribadi-. Dengan demikian -ketika di dunia- maka kedudukannya akan bertambah mulia dan terhormat. Di akherat pun, kedudukannya akan bertambah mulia dan pahalanya bertambah besar jika orang tersebut memiliki sifat pemaaf (lihat Syarh Muslim [8/194]).
  13. Di antara hikmah memaafkan kesalahan orang adalah akan bisa merubah musuh menjadi teman -sehingga hal ini bisa menjadi salah satu cara untuk membuka jalan dakwah-, atau bahkan bisa menyebabkan orang lain mudah memberikan bantuan dan pembelaan di saat dia membutuhkannya (lihat Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 109)
  14. Allah mencintai orang yang pemaaf.
  15. Anjuran untuk bersikap tawadhu’/rendah hati. Karena dengan kerendahan hati itulah seorang hamba akan bisa memperoleh ketinggian derajat dan kemuliaan, ketika di dunia maupun di akherat kelak (lihat Syarh Muslim [8/194]).
  16. Hakekat orang yang tawadhu’ adalah orang yang tunduk kepada kebenaran, patuh kepada perintah dan larangan Allah dan rasul-Nya serta bersikap rendah hati kepada sesama manusia, baik kepada yang masih muda ataupun yang sudah tua. Lawan dari tawadhu’ adalah takabur/sombong (lihat Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 110)
  17. Allah mencintai orang yang tawadhu’
  18. Larangan bersikap takabur; yaitu menolak kebenaran dan meremehkan orang lain
  19. Tawadhu’ yang terpuji adalah yang dilandasi dengan keikhlasan, bukan yang dibuat-buat; yaitu yang timbul karena ada kepentingan dunia yang bersembunyi di baliknya (lihat Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 110)
  20. Yang menjadi penyempurna dan ruh/inti dari ihsan/kebajikan adalah niat yang ikhlas dalam beramal karena Allah (lihat Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 110)
  21. Ketawadhu’an merupakan salah satu sebab diangkatnya derajat seseorang di sisi Allah. Di samping ada sebab lainnya seperti; keimanan -dan itu yang paling pokok- serta ilmu yang dimilikinya. Bahkan, ketawadhu’an itu sendiri merupakan buah agung dari iman dan ilmu yang tertanam dalam diri seorang hamba (lihat Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 110)
  22. Hadits ini menunjukkan bahwa manusia diperintahkan untuk mencari ketinggian dan kemuliaan derajat di sisi-Nya. Sedangkan orang yang paling mulia di sisi-Nya adalah yang paling bertakwa (lihat QS. al-Hujurat: 13). Dan salah satu kunci ketakwaan adalah kemampuan untuk mengekang hawa nafsu, sehingga orang tidak akan bakhil dengan hartanya, akan mudah memaafkan, dan tidak bersikap arogan ataupun bersikap sombong di hadapan manusia.
  23. Hadits ini menunjukkan keutamaan mengekang hawa nafsu dan keharusan untuk menundukkannya kepada syari’at Rabbul ‘alamin
  24. Hendaknya menjauhi sebab-sebab yang menyeret kepada sifat-sifat tercela -misalnya; kikir dan sombong- dan berusaha untuk mengikisnya jika seseorang mendapati sifat itu ada di dalam dirinya
  25. Kemuliaan derajat yang hakiki adalah di sisi Allah (diukur dengan syari’at), tidak diukur dengan pandangan kebanyakan manusia
  26. Bisa jadi orang itu tidak dikenal atau rendah dalam pandangan manusia -secara umum-, akan tetapi di sisi Allah dia adalah sosok yang sangat mulia dan dicintai-Nya. Tidakkah kita ingat kisah Uwais al-Qarani seorang tabi’in terbaik namun tidak dikenal orang, diremehkan, dan tidak menyukai popularitas?
  27. Pujian dan sanjungan orang lain kepada kita bukanlah standar apalagi jaminan. Sebab ketinggian derajat yang hakiki adalah di sisi-Nya. Oleh sebab itu, tatkala dikabarkan kepada Imam Ahmad oleh muridnya mengenai pujian orang-orang kepadanya, beliaupun berkata, “Wahai Abu Bakar -nama panggilan muridnya-, apabila seseorang telah mengenal jati dirinya, maka tidak lagi bermanfaat ucapan (pujian) orang lain terhadapnya.” (lihat Ma’alim fi Thariq Thalabil Ilm, hal. 22). Ini adalah Imam Ahmad, seorang yang telah hafal satu juta hadits dan rela mempertaruhkan nyawanya demi menegakkan Sunnah dan membasmi bid’ah. Demikianlah akhlak salaf, aduhai… di manakah posisi kita bila dibandingkan dengan mereka? Jangan-jangan kita ini tergolong orang yang maghrur/tertipu dengan pujian orang lain kepada kita. Orang lain mungkin menyebut kita sebagai ‘anak ngaji’, orang alim, orang soleh, atau bahkan aktifis dakwah. Namun, sesungguhnya kita sendiri mengetahui tentang jati diri kita yang sebenarnya, segala puji hanya bagi Allah yang telah menutupi aib-aib kita di hadapan manusia… Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami
  28. Islam menyeru kepada akhlak yang mulia
  29. Islam mengajarkan sikap peduli kepada sesama dan agar tidak bersikap masa bodoh terhadap nasib atau keadaan mereka
  30. Sesungguhnya ketaatan itu -meskipun terasa sulit atau berat bagi jiwa- pasti akan membuahkan manfaat besar yang kembali kepada pelakunya sendiri. Sebaliknya, kedurhakaan/maksiat itu -meskipun terasa menyenangkan dan enak- maka pasti akan berdampak jelek bagi dirinya sendiri. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Perkara paling bermanfaat secara mutlak adalah ketaatan manusia kepada Rabbnya secara lahir maupun batin. Adapun perkara paling berbahaya baginya secara mutlak adalah kemaksiatan kepada-Nya secara lahir ataupun batin.” (al-Fawa’id, hal. 89). Allah ta’ala telah menegaskan (yang artinya), “Bisa jadi kalian membenci sesuatu padahal itu baik bagi kalian, dan bisa jadi kalian menyenangi sesuatu padahal itu adalah buruk bagi kalian. Allah Maha mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui -segala sesuatu-.” (QS. al-Baqarah: 216)
  31. Pahala besar bagi orang yang berjiwa besar; yaitu orang yang tidak segan-segan untuk menyisihkan sesuatu yang dicintainya -yaitu harta- guna berinfak di jalan Allah, mau melapangkan dadanya untuk memaafkan kesalahan orang lain kepadanya, serta bersikap tawadhu’ dan tidak meremehkan orang lain.
  32. Ketiga macam amal soleh ini -dengan izin Allah- bisa terkumpul dalam diri seseorang. Dia menjadi orang yang dermawan, suka memaafkan, dan juga rendah hati. Perhatikanlah sifat-sifat dan kepribadian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, niscaya ketiga sifat ini akan kita temukan dalam diri beliau. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh telah ada bagi kalian pada diri Rasulullah teladan yang baik, yaitu bagi orang yang berharap kepada Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah.” (QS. al-Ahzab: 21)
  33. Di samping menyeru kepada persatuan umat Islam -di atas kebenaran- maka Islam juga menyerukan perkara-perkara yang menjadi perantara atau sebab terwujudnya hal itu. Di antaranya adalah dengan menganjurkan 3 hal di atas: suka bersedekah -yang wajib ataupun yang sunnah-, suka memaafkan, dan bersikap rendah hati/tawadhu’. Sesungguhnya, kalau kita mau mencermati kondisi kita di jaman ini -yang diwarnai dengan kekacauan serta fitnah yang timbul di medan dakwah-, akan kita dapati bahwa kebanyakan di antara kita -barangkali- amat sangat kurang dalam menerapkan ketiga hal tadi. Akibat tidak suka bersedekah, banyak kepentingan umat -khususnya dakwah- yang tidak terurus dengan baik. Akibat sulit memaafkan, permusuhan yang tadinya hanya bersifat personal pun akhirnya melebar menjadi permusuhan kelompok. Akibat perasaan lebih tinggi dan gengsi, jalinan ukhuwah yang terkoyak pun seolah tak bisa dijalin kembali. Masing-masing pihak ingin menang sendiri dan berat mendengarkan pandangan atau argumentasi saudaranya. Maka yang terjadi adalah sikap saling menyalahkan, dan kalau perlu menjatuhkan kehormatan saudaranya tanpa alasan yang dibenarkan. Kalau seperti itu caranya, ya tidak akan pernah ketemu… Bisa jadi ini hanya sekedar analisa, namun tidak kecil kemungkinannya itu merupakan realita yang ada, wallahul musta’an. Sebagian orang, setelah selesai mendengar kritikan dari saudaranya seketika itu pula ia memberikan ‘serangan balik’ kepada sang pengkritik. Padahal, nasehat yang didengarnya belum lagi meresap ke dalam akal sehatnya. Karena merasa dirinya telah ‘dilecehkan’ dia pun berkata kepada temannya, “Saya juga punya kritikan kepadamu. Kamu itu begini dan begitu…” Wahai saudaraku -semoga Allah merahmatimu- marilah kita bersama-sama berlatih untuk menerima kritik dan nasehat dengan lapang dada (lihat wasiat ke-31 bagi penuntut ilmu, dalam Ma’alim fi Thariq Thalabil ‘Ilm, hal. 268-269). Ingatlah ucapan seorang Syaikh yang mulia ketika berceramah menegaskan isi nasehat Syaikh Rabi’ bin Hadi -hafizhahullah- dalam Daurah Nasional yang belum lama berlalu di Masjid Agung Bantul Yogyakarta, “Tidak ada seorang insanpun melainkan pasti pernah terjatuh dalam kekeliruan… Namun, yang tercela adalah orang yang tetap bersikukuh mempertahankan kesalahannya.” Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang-orang yang berjiwa besar, Allahumma amin. Rabbanaghfirlana wa li ikhwaninal ladzina sabaquna bil iman, wa laa taj’al fi qulubina ghillal lilladzina amanu, Rabbana innaka ra’ufur rahim.
Sumber: http://abumushlih.com/

Menghadapi Rasa Sakitnya Sakaratulmaut


Terdapat beberapa kisah pengalaman mereka yang telah mati. Cerita tersebut banyak diceritak oleh Rasulullah s.a.w. dalam beberapa bua hadis, di antaranya:

Pengalaman Nabi Allah Ibrahim a.s. Setelah wafat, Allh s.w.t. bertanya kepadanya (Walhal Allah lebih mengetahuinya); “Bagaimana kamu merasai mati.” Jawab Nabi Allah Ibrahim; “Nyawa ku ibarat di dalam tepung yang basah yang telah diuli dan diganggang di atas api. Setelah itu benang ditarik keluar. Maka sudah tentu benang yang keluar akan terlekat pada tepung itu. Demikianlah pedihnya nyawa keluar.”

Nabi Musa a.s. setelah mati, ia juga ditanya oleh Allah s.w.t.; “Bagaimana kamu merasai mati?” Nabi Musa menjawab; “Aku merasa diriku ketika itu seperti burung pipit yang sedang hidup, lalu dilempar ke dalam kuali yang berisi minyak yang sedang menggelegak panas. Ia tidak pula segera mati dan tidak pula boleh terbang untuk melepaskan diri. Ia mengelepar terus di dalam minyak panas itu.” Begitulah gambaran sakitnya mati yang digambarkan oleh Nabi Musa.

Riwayat Abu Na’im bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda yang maksudnya: “Demi Tuhan jiwaku ditanganNya, sesungguhnya menyaksi “Malaikat Maut” sahaja adalah lebih pedih daripada 1,000 pukulan pedang.” (Abu Na’im dan Al Khatib – Ehya’ Ulumuddin)

Dalam riwayat lain Rasulullah s.a.w. bersabda yang maksudnya: “Sesunguhnya mati itu adalah amat pedih umpama ditetak dengan pedang beberapa kali atau digergaji dengan gergaji atau umpamanya dipotong dengan gunting beberapa kali guntingan.” (Abu Na’im)

Rasulullah s.a.w. bersabda lagi yang maksudnya: “Nafas (roh) orang mukmin apabila keluar dari tubuhnya ibarat angin dan sementara nafas orang kafir keluar seperti nafa hemar. Orang mukmin yang durhaka (‘asi) apabila ia hampir meninggal, ia merasa seksa yang amat sangat, kerana Allah hendak membersihkan (menghapuskan) dosanya dengan kepedihan, ketika ia hampir meninggal, diringankan rasa sakit dan dimudahkan rohnya keluar dari badannya.”

Bagi orang mukmin, hikmah Allah rasakan sakit ketika hampir mati, kerana hendak menghapuskan seksaan di akhirat. Sementara bagi orang kafir diringankan sakit kerana ia akan diseksa di akhirat.

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Rasulullah s.a.w. diriwayat bersabda yang maksudnya: “Tidak ada yang pernah dialami oleh anak Adam itu lebih berat (sakit) daripada pengalaman merasai mati. Setelah ia alami kepedihan rasa mati itu, ia tidak alami lagi sesuatu yang lebih (pedih) daripada itu.”

Dosa sebar fitnah hilangkan pahala terkumpul


HATI adalah organ paling utama dalam tubuh manusia dan nikmat paling agung diberikan Allah sebagai titik untuk menilai keikhlasan. Di hati lahirnya niat yang menjadi penentu sesuatu amalan diterima sebagai pahala atau sebaliknya.

Hati perlu dijaga dan dipelihara dengan baik supaya tidak rosak, sakit, buta, keras dan tidak mati bagi mengelak penyakit masyarakat yang berpunca daripada hati.

Kerosakan pada hati membawa kepada kerosakan seluruh nilai hidup pada diri seseorang individu. Penyakit hati yang menyerang kebanyakan kita ialah penyakit fitnah, sama ada menjadi penyebar atau mudah mempercayai fitnah.

Perbuatan fitnah adalah sebahagian perbuatan mengadu-domba yang mudah menyebabkan permusuhan dua pihak yang dikaitkan dengan fitnah berkenaan.

Masyarakat yang dipenuhi budaya fitnah akan hidup dalam keadaan gawat. Sebelah pihak sibuk menyebarkan fitnah dan sebelah pihak lagi terpaksa berusaha menangkis fitnah itu.

Natijah akibat perbuatan itu boleh mencetus persengketaan dan mungkin berakhir dengan tragedi kerugian harta benda dan nyawa. Individu yang suka menyebar fitnah sentiasa mencari kejadian atau berita boleh dijadikan bahan fitnah.

Dengan sedikit maklumat, berita itu terus disebarkan melalui pelbagai saluran yang merebak dengan mudah. Berita sensasi, terutama berkaitan individu ternama dan selebriti mudah mendapat perhatian khalayak.

Justeru, Allah memberi peringatan mengenai bahaya fitnah. Firman-Nya yang bermaksud: Dan fitnah itu lebih besar bahayanya daripada pembunuhannya. (Surah al-Baqarah, ayat 191)

Apabila fitnah tersebar secara berleluasa, ia bermakna nilai agama sudah musnah dalam diri seseorang atau masyarakat. Islam bertegas tidak membenarkan sebarang bentuk fitnah biarpun untuk tujuan apa sekalipun.

Rasulullah SAW bersabda bermaksud: Akan muncul suatu ketika di mana ilmu Islam dihapuskan, muncul pelbagai fitnah, berleluasa sifat kedekut dan banyak berlaku jenayah. (Hadis riwayat Muslim)

Penyebaran fitnah mudah berlaku dalam era teknologi komunikasi moden sekarang. Kemudahan khidmat pesanan ringkas (SMS), laman web dan emel membolehkan penyebaran maklumat tanpa memerlukan bertemu secara berdepan, lebih mudah, cepat, meluas dan murah.

Teknologi yang sepatutnya digunakan untuk kebaikan disalahgunakan untuk menyebarkan fitnah. Penyebaran fitnah melalui SMS yang berleluasa memaksa kerajaan menetapkan peraturan semua pemilik kad prabayar didaftarkan.

Islam mempunyai kaedah lebih ketat bagi memastikan kebenaran sesuatu berita supaya tidak terperangkap dengan berita berunsur fitnah. Wajib bagi Muslim menghalusi setiap berita diterima supaya tidak terbabit dalam kancah berita berunsur fitnah.

Sebarang berita diterima perlu dipastikan kesahihannya. Kebijaksanaan dan kewarasan fikiran amat penting digunakan bagi memastikan tidak terpedaya dengan berita berunsur fitnah.

Firman Allah bermaksud: Wahai orang yang beriman, jika datang kepada kamu seorang fasik membawa sesuatu berita, maka selidik (untuk menentukan) kebenarannya, supaya kamu tidak menimpakan sesuatu kaum dengan perkara tidak diingini, dengan sebab kejahilan kamu (mengenainya) sehingga menyebabkan kamu menyesali perkara yang kamu lakukan.(Surah al-Hujurat, ayat 6)

Banyak pihak yang turut terbabit menyebar fitnah sebenarnya tidak mempunyai sebarang kepentingan berkaitannya. Tetapi, disebabkan amalan menyebar fitnah sudah menjadi kebiasaan, banyak yang turut menyertainya dan seperti mendapat kepuasan daripada perbuatan itu.

Fitnah biasanya disebarkan bertujuan memburukkan individu atau kumpulan. Pada masa sama, perbuatan itu dapat menonjolkan dirinya sebagai lebih baik dan lebih layak berbanding orang yang diburukkan itu.

Dosa membuat fitnah digolongkan sebagai dosa sesama manusia. Justeru, dosa itu tidak akan diampunkan Allah, melainkan orang yang difitnah itu memberi keampunan terhadap perbuatan itu.

Mungkin ramai menyangka perbuatan menyebarkan berita fitnah sekadar satu kesalahan kecil. Sebab itu, perbuatan seumpamanya dilakukan seperti tiada apa merugikan.

Hakikatnya, dosa membuat fitnah menjauhkan diri dari syurga. Sabda Rasulullah SAW bermaksud: Tidak masuk syurga orang yang suka menyebarkan fitnah.(Hadis riwayat Bukhari dan Muslim)

Dosa menyebar fitnah umpama api membakar ranting kering kerana ia cepat merebak dan akan menjadi abu sepenuhnya. Dosa menyebar fitnah menyebabkan pahala terdahulu dihilangkan sehinggakan penyebar fitnah akan menjadi muflis di akhirat nanti.

Penyebar khabar angin biasanya menyebut perkataan dengar khabar mengenai berita yang disebarkan. Bagaimanapun, apabila berita tersebar daripada seorang ke seorang, maklumat yang belum sahih itu sudah hilang dan kemudian disebarkan seperti berita benar.

Dalam Islam, sesuatu berita benar tetap tidak boleh disebarkan jika orang yang berkaitan cerita itu tidak mahu ia disebarkan kepada orang lain. Menyebarkan berita benar tetap dilarang, inikan pula menyebarkan berita tidak benar.

Imam Ghazali dalam buku Ihya Ulumuddin menjelaskan perbuatan membocorkan rahsia orang lain dan menjejaskan kehormatannya dengan cara membuka rahsianya yang tidak mahu diketahui orang lain dianggap sebagai perbuatan mengadu-domba dan fitnah.

Mengenai berita benar dan berita tidak benar yang disebarkan tanpa kebenaran atau kerelaan orang berkaitan, Rasulullah SAW bersabda bermaksud: Adakah kamu semua mengetahui apakah ghibah (mengumpat)? Sahabat menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Lalu Baginda meneruskan sabdanya: Kamu berkata mengenai saudara kamu perkara yang tidak disenanginya. Lalu ditanya oleh seorang sahabat: Walaupun saya berkata perkara yang benar-benar berlaku pada dirinya? Rasulullah bersabda lanjut: Jika kamu berkata mengenai perkara yang benar-benar berlaku pada dirinya bererti kamu mengumpatnya, jika perkara yang tidak berlaku pada dirinya bererti kamu memfitnahnya.(Hadis riwayat Abu Hurairah)

Larangan mencari dan membocorkan rahsia orang lain jelas dilarang Allah seperti dijelaskan dalam firman-Nya bermaksud: Dan janganlah kamu mengintip atau mencari-cari kesalahan dan keaiban orang lain. (Surah al-Hujurat, ayat 12)

Justeru, setiap Muslim perlu bijak menilai sesuatu berita bagi mengelak daripada menerima dan kemudian menyebarkan sesuatu berita berunsur fitnah.

Perkara pertama perlu diberi perhatian untuk memastikan kesahihan berita ialah memastikan sumber berita itu, yakni siapakah yang mula menyebarkan berita dan rantaian orang yang membawa berita itu.

Umat Islam tentu tidak lupa pada sejarah menyebabkan kematian khalifah ketiga kerajaan Islam di Madinah iaitu Uthman Affan, yang berpunca daripada fitnah disebarkan kumpulan ekstremis agama.

Penyebaran fitnah turut menjadi penyebab kepada peperangan sesama Islam atau perang saudara ketika zaman pemerintahan Saidina Ali dan zaman selepas itu.

Fitnah juga meruntuhkan kekuatan Bani Umaiyah malah, sejarah kejatuhan empayar besar kerajaan Melayu Melaka tidak terkecuali kerana fitnah. Ubat bagi penyakit hati ialah dengan memperbanyakkan taubat dan selalu berzikir.

Oleh Lokman Ismail
Sumber: http://nurjeehan.hadithuna.com/

Wahsiat Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail


Nabi Ismail dianugerahi Allah S.W.T. keturunan yang banyak dan anak-anaknya itu menjadi pemimpin kaumnya dan mereka dinamakan Arab Musta’ribah.

Untuk mengembalikan bangsa Arab dari kesesatan menyembah berhala dan berbagai-bagai kepercayaan palsu, akhirnya diutuskan oleh Allah seorang nabi keturunan Nabi Ismail dan Ibrahim, iaitu Nabi Muhammad SAW. Nabi Ismail ialah datuk Nabi Muhammad yang ke-20.

Menurut Riwayat, Nabi Ismail meninggal dunia dalam usia 137 tahun di negeri Palestina, dan menurut Riwayat lain beliau meninggal di Mekah.

Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail telah berwasiat kepada anak cucunya sebagai berikut:

“Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih Islam men jadi agamamu, kerana itu janganlah kamu mati kecual;i tetap dalam keislaman.”

Umat Islam Perlu Berjiwa Besar Bina Tamadun Sempurna


SUASANA mutakhir di Barat sepatutnya membuka hati umat Islam kepada keyakinan mutlak perlunya membina kekuatan dalam semua aspek untuk membangun tamadun menepati tuntutan Ilahi.

Kejahilan dan perpecahan menyebabkan ummah sentiasa dipermain Barat. Teriakan berbentuk retorik agama untuk membangunkan ummah patut menjadi perkara lampau. Islam dan umatnya hanya boleh dibangunkan dengan asas ilmu yang mantap dan pengikut yang faham serta yakin hanya dengan pendekatan Islam.

Pendekatan sekular yang menumpu kepada pembangunan ekonomi untuk membina peradaban manusia sudah menghasilkan kegagalan ketara kepada kebajikan manusia termasuk keunggulan ekonomi negara terbabit.

Kemiskinan yang melarat, pengagihan kekayaan tidak seimbang, keruntuhan institusi keluarga, akhlak, alam sekitar dan pelbagai masalah kemanusiaan patut membuka hati semoga pendekatan alternatif untuk membina peradaban manusia perlu diusaha segera.

Pendekatan membina kemajuan masyarakat dan negara melalui pencapaian pertumbuhan ekonomi jelas mempamerkan, walaupun pertumbuhan ekonomi tercapai masalah lain seperti kemiskinan, pengangguran dan hutang turut mencatat angka membimbangkan.

Contohnya, hutang ekonomi negara maju kini semakin meruncing. Beban hutang sektor awam Amerika Syarikat pada 2010 melebihi AS$14 trilion, meningkat 72 peratus daripada lima tahun lalu. Jumlah ini tidak termasuk hutang sektor swasta yang lebih besar lagi.

Jepun turut mencatat hutang dua kali ganda ekonominya iaitu AS$5 trillion. Mengikut John Lipsky dari Tabung Kewangan Antarabangsa (IMF), nisbah purata hutang negara maju akan melebihi 100 peratus Keluaran Dalam Negara Kasar tahun ini sejak peperangan dunia lalu.

Keadaan ini akan menempah krisis fiskal yang ketara pada masa depan. Jika dasar fiskal sukar untuk berperanan dengan baik dalam menyusun ekonomi negara, cuba bayangkan apa akan jadi kepada ekonomi negara itu. Persoalan perlu umat Islam ambil iktibar ialah pendekatan Barat yang kita sanjungi tidak boleh lagi dijadikan panduan. Di samping itu, pendekatan dikatakan menurut kehendak syariah juga perlu kepada pengkajian semula.

Pelaksanaannya yang bersifat ‘literal’ tidak menghasilkan natijah berkesan ke arah pencapaian matlamat syariah. Matlamat pelaksanaan mengikut kehendak syariah ialah untuk membina peradaban manusia bukan hanya membicara hal serpihan. Justeru, pendekatan yang bagaimana mampu membawa kebajikan dan kesejahteraan menyeluruh kepada kehidupan manusia keseluruhannya.

Untuk membina peradaban ummah yang kuat bersesuaian suasana semasa, panduan agama yang tepat, sempurna dan menyeluruh berpandukan semangat al-Quran dan al-Sunnah wajib diketengahkan secara terperinci serta realistik keadaan dan tempat.

Ini memerlukan ilmuwan Muslim menguasai ilmu al-Quran dan hadis serta memahami perjalanan sistem hidup semasa untuk membimbing kemajuan ummah.

Keadilan sosial bernegara mengikut Islam dapat difahami sebagai suasana apabila sektor awam dalam negara pada asasnya dapat menyedia keperluan hidup asasi rakyat dengan pembinaan keimanan individu Muslim melalui sistem pendidikan.

Menaikkan taraf daya kemahiran hidup untuk semua lapisan masyarakat, memberi kebebasan dan jaminan perundangan, memberi jaminan untuk menentu atau berusaha bersama dalam kegiatan ekonomi dan berusaha membina tamadun utuh untuk generasi masa depan.

Dengan kata lain pendekatan kepada amalan perniagaan adalah untuk memberi kesejahteraan dan kebajikan kepada seluruh masyarakat. Pendekatan ini memerlukan amalan ikhlas dan kecekapan dalam urusan perniagaan. Abad ke-21 ini adalah era pertembungan tamadun. Justeru, untuk umat Islam menonjol dan menjadi ikutan, perlu berjiwa besar dan jujur membentuk kemajuan ke arah membina sebuah tamadun sempurna dan mulia.

Oleh Nik Mustapha Nik Hassan
Penulis ialah Ketua Pengarah Institut Kefahaman Islam Malaysia (IKIM)

Sumber: http://www.bharian.com.my/