Thursday, December 23, 2010

DIMANAKAH SYURGA DIMANAKAH NERAKA

Bagian terakhir dari kehidupan Akhirat adalah Syurga dan Neraka. Syurga adalah tempat yang digambarkan sangat indah dan penuh fasilitet, yang disediakan bagi orang-orang yang banyak berbuat kebajikan. Sedangkan Neraka, adalah tempat yang digambarkan sangat mengerikan yang disediakan untuk orang-orang yang banyak berbuat dosa dan kejahatan.

Dimanakah kedua tempat itu berada? Hingga sejauh ini, kebanyakan kita tidak memperoleh kesimpulan yang cukup memadai untuk menggambarkan Syurga. Padahal sebenarnya Al Qur'an memberikan informasi yang sangat banyak tentang keduanya. Jika kita mencermatinya, Insya Allah kita boleh memperoleh gambaran yang sangat baik.

Yang pertama, Syurga itu ternyata luasnya seluas langit dan Bumi. Hal ini disebutkan Allah didalam firmanNya

“Dan bersegeralah kalian kepada ampunan Allah dan Syurga yang luasnya seluas langit dan Bumi, yang disediakan kepada orang-orang yang bertakwa. (Ali Imran: 133)

Langit kita ada 7 lapisan. Firmn Allah bermaksud;

"Allah-lah yang menciptakan tujuh langit, dan seperti itu pula Bumi.” (Ath Talaaq: 12)

Bagaimanakah menjelaskan bahwa langit dan Bumi itu ada tujuh? Hal ini memang sangat abstrak, tetapi sebenarnya boleh dijelaskan dengan teori dimensi.

Akan tetapi secara ringkasnya, Allah memang mengatakan bahwa Dia menciptakan langit alam semesta ini sebenarnya bukan hanya satu, melainkan tujuh.

Langit yang pertama dihuni oleh manusia, haiwan, dan tumbuhan, serta benda-benda langit seperti bintang, planet, galaksi, supercluster dan lain sebagainya. Langit yang disebut sebagai langit Dunia ini berdimensi 3.

Langit kedua dihuni oleh bangsa jin. Mereka memiliki dimensi 4. Alamnya sebenarnya berdampingan dengan kita, akan tetapi tidak bersentuhan, kerana memang dimensinya berbeza. Perbandingannya bagaikan 'Dunia Bayangan' yang 2 dimensi dan hidup di permukaan tembok, dengan 'Dunia Manusia' yang berdimensi 3, hidup di dalam ruangan. Kedua dunia itu hidup berdampingan tetapi tidak bercampur aduk.

Langit ketiga Hingga ke enam, berturut-turut adalah berdimensi 5, 6, 7, dan 8. Semua langit itu digunakan dalam masa penantian' oleh roh-roh manusia yang telah mati, selama di Alam Barzakh. Rasulullah, diceritakan pernah bertemu roh para Nabi ketika menjalani Mi'raj ke langit yang ke tujuh.

Langit yang ke tujuh adalah langit tertinggi, yang berdimensi 9. Di langit inilah terdapat Syurga dan Neraka. Ketika berada di Sidratul Muntaha, di langit ke tujuh, Rasulullah pernah melihat Syurga. Hal ini diceritakan di ayat berikut ini.

“Di Sidratul Muntaha. Di dekatnya ada Syurga tempat tingga” (An Najm: 14-15)

Langit ke tujuh adalah langit yang 'terbesar' dan 'tertinggi' di antara ke tujuh langit itu. Sebab, menurut teori dimensi, langit yang lebih rendah dimensinya, termuat oleh langit yang lebih tinggi dimensinya. Berarti, langit ke tujuh memuat langit ke enam, memuat langit ke lima, ke empat ke tiga, ke dua dan ke satu.

Bayangkan, ibarat sebuah kubus (dimensi 3) yang tersusun dari lembaran-lembaran luasan (dimensi 2), dan tersusun oleh garis-garis (berdimensi 1), serta memuat titik titik dalam jumlah tak berhingga, sebagai komponen penyusunnya.

Pendek kata, langit ke tujuh memuat seluruh pintu masuk yang ada di langit pertama Hingga ke tujuh. Maka, ketika Syurga itu berada di langit ke tujuh, sebenarnya Syurga itu memang memiliki luas yang seluas luasnya: terbentang antara langit dan Bumi. Bukan hanya langit Dunia, melainkan langit Akhirat, iaitu di langit yang ke tujuh. Akan tetapi, semua itu boleh diperhati dari Bumi yang kita duduki ini. Kenapa boleh demikian?

Bumi yang kita duduki ini berada di dalam pertama atau langit Dunia. Akan tetapi, kerana langit pertama menjadi komponen penyusun Langit Kedua, maka Bumi ini juga berada di langit ke dua. Jika sebuah garis tersusun dari titik-titik, dan sebuah luasan tersusun dari garis garis yang dijejer, maka titik-titik itu pun akan menjadi penyusun luasan

Demikian pula, Bumi sebagai komponen penyusun langit pertama, juga tetap pintu masuk di langit ke dua, di langit tiga Hingga langit yang ke tujuh.

Hanya saja, kerana sudut pandang setiap langit adalah berbeda beza, maka Bumi yang sama dilihat dari langit pertama akan berbeza dibandingkan dengan dilihat dari langit kedua. Demikian pula akan berbeza jika dilihat dari langit ke tiga Hingga langit ke tujuh.

Sehingga, kita boleh memahami apa yang dikatakan dalam al-Quran ayat Ath Talaaq: 12 di atas, bahwa sebagaimana langit, Bumi temyata juga ada 7 buah. Sebenarnya, bukan ada 7 buah Bumi, melainkan Bumi yang satu tersebut memiliki 7 wajah sesuai dengan sudut pandang langitnya.

Dari Bumi yang satu itu juga kita sebenarnya boleh memerhatikan langit yang ke tujuh. Untuk boleh merasakan Syurga dan Neraka, kita tidak perlu beranjak ke mana-mana. Cukup dari Bumi saja!

Kerana itu Allah berfirman bahwa Akhirat itu sebenarnya terjadi di Bumi, seperti firman Allah bermaksud:

“Di Bumi itulah kita hidup, di Bumi itu kita mati, dan di Bumi itu pula kita dibangkitkan.”

Jadi, pada kenyataannya, kita ini sudah berada di dalam Akhirat (langit ke tujuh) sejak hidup di dunia. Hanya kerana keterbatasan fizikal dan pancaindera kita saja, maka kita tidak menyedari bahwa kita telah berada di dalam alam Akhirat sejak awal.

Alam Akhirat bukanlah alam yang sekarang tidak ada, lantas nanti diadakan setelah terjadinya kiamat. Bukan begitu. Alam Akhirat ini sekarang sudah ada. Bahkan, sejak alam semesta diciptakan, Allah sudah menciptakan Akhirat, Syurga dan Neraka di langit yang ke tujuh. Tapi kita belum boleh merasakannya, kerana badan kita 'terikat' di dimensi 3. Sementara itu, Akhirat berada di dimensi 9.

Buktinya, Rasulullah sudah pernah melihat Syurga itu di langit ke tujuh, saat Mi'raj. Dan ketika itu, sebenarnya Rasulullah tidak beranjak dari Bumi. Beliau hanya mengalami perjalanan dimensional, dari dimensi 3 di langit pertama menuju dimensi 9 di langit ke tujuh. Tetapi beliau masih tetap berada di Bumi!

Oleh sebab itu, Syurga ini boleh dinampakkan atau tidak dinampakkan oleh Allah kepada kita, kerana ia memang sudah ada. Persoalannya, ia tersembunyi dari pandangan kita dikeranakan terbatasnya dimensi manusia. Jika batas-batas dimensi itu disingkapkan oleh Allah, kita akan boleh 'melihatnya' atau bahkan merasakannya.

Hal itu bakal terjadi kepada kita setelah terjadinya kiamat Bumi. Alam semesta bergerak menciut kembali, sehingga hukum alamnya akan berbalik 180 darjah. Pancaindera kita, termasuk 'mata hati', bakal boleh memerhatikan dan merasakan seluruh langit yang tujuh itu dari Bumi. Kita lantas boleh 'melihat' Syurga dan Neraka, termasuk para malaikat yang hidup di langit ke tujuh.

Oleh: firliana putri
Sumber: http://www.mail-archive.com/daarut-tauhiid@yahoogroups.com/

No comments:

Post a Comment

Google+ Followers